Senin, 21 Oktober 2013

Studio Artist Cream Blush






Setiap kali menonton drama Korea selain memperhatikan aktornya yang ganteng-ganteng, salah satu yang terlintas dalam pikiran saya adalah bagaimana membuat pipi merona sealami  aktris-aktrisnya. Tentunya banyak perbedaan antara saya dengan mereka, mulai dari kondisi kulit, perbedaan iklim Korea dengan Indonesia, dan kondisi kantong juga sih… Kondisi ini bukan menjadi penghalang bila kita mendapatkan produk yang sesuai. Kali ini saya ‘bertemu’ dengan Oriflame Beauty Studio Artist Cream Blush.
Produk yang merupakan bagian dari seri make-up Oriflame Beauty Studio Artist ini mengandung Illuma Fair Complex yang dipercaya dapat memencarkan cahaya di permukaan kulit secara alami. Hal ini berarti memungkinkan wanita tampil dengan wajah yang lebih lembut berseri, menonjol tapi tidak terlihat kasar.
Cream blush ini dikemas hampir mirip pasta gigi namun dalam ukuran mini, hanya 20 ml. Terlalu kecil? Tidak, apa lagi untuk ukuran muka saya yang mungil. Kita hanya butuh 3-4 titik cream untuk masing-masing bagian pipi yang ingin dipertegas. Baurkan ke arah pelipis, tambahkan jika ingin dampak yang lebih. Penambahan bukanlah masalah untuk dilakukan karena warna produk ini sangat mudah bercampur dengan warna kulit sehingga hasilnya pun memberikan efek fokus dan lembut. Jika warnanya terlalu kuat pun sama, cukup lapisi lagi dengan sedikit bedak.
Satu hal lagi yang membuat tertarik dengan produk ini, selain sebagai perona pipi ternyata juga bisa digunakan pewarna bibir. Cukup tambahkan lip gloss untuk hasil akhir agar terlihat mengkilap.
Oriflame Beauty Studio Artist Cream Blush dibuat dalam 3 varian warna, Soft Peach, Pink Glow, dan Sheer Berry. So, pilihlah warna yang sesuai (selera dan warna kulit) untuk pipi merona alamimu!
NB: *Baurkan dengan kuas foundation atau jari-jari Anda
        *Warna yang terpancar juga tergantung cahaya yang ada.
       
Produk Name: Oriflame Beauty Studio Artist Cream Blush
Price: Rp 99.000,- (tergantung katalog)

Senin, 07 Oktober 2013

Me and Online Shop

“Ini bukan salah online shop tapi saya saja yang kurang pintar” – Me

Kenapa saya g’ menyalahkan si online shop? Karena sebenarnya saya tahu bahwa seharusnya g’ belanja di sana mengingat tingkat kepuasaan saya yang kadang sulit dipenuhi.
Seumur-umur saya baru dua kali belanja di online shop. Pertama, beli wallsticker dan pashmina. Kedua, beli sweater. Pelayanan mereka terus terang sangat memuaskan dan barangnya pun sampai tepat waktu. Lalu, masalahnya di mana? Saya menulis ini setelah (tapi baru dipublikasikan sekarang) menerima sweater yang di foto IG online shop terlihat sangat manis tapi aslinya so-so.  G’ buruk-buruk amat sih cuma ya gitu deh…
Seharusnya, sebelum belanja di online shop saya ingat kembali aturan ini:
  • Jangan belanja baju dan sepatu karena jika ukurannya berbeda sedikit saja bakal ribet.
  • Pikirkan baik-baik warnanya. Lebih baik yang satu atau dua warna dengan perpaduan yang meyakinkan sehingga jika warnanya bergeser (lebih muda atau tua) tidak akan terlalu bikin gemas.
  • Tanyakan detail-detail barang yang ingin dibeli (bahan, ukuran, model, dst).
  • Pastikan online shop tersebut terpercaya. Bisa dilihat dari respon pembelinya (testimony) atau yang sering saya lakukan, memilih yang pernah mengendorse orang-orang terkenal.
  • Bila pertama kali belanja di online shop tersebut sebaiknya membeli 1 atau 2 barang dengan harga yang murah saja. Tanyakan berapa ongkos kirimnya. Saya biasanya hanya belanja di bawah seratus ribuan dan sudah termasuk ongkos kirim.   
  • Berpikir dan berpikirlah sebelum benar-benar membeli barang yang diinginkan.
Aturan di atas sih bagi saya, ya terserah mau diterapkan atau g’, kan belanjanya pakai duit masing-masing.
Kembali ke si sweater, bagaimana karena sudah terlanjur saya beli? Sebenarnya bisa dijual tapi berhubung kepedean lagi tingkat durjana jadi yakin saja klo saya yang pakai bakal oke. *dipersilahkan untuk melempar tomat* :)

Review Inferno


Sedari awal  sudah jadi penggemar Dan Brown tapi dari semua bukunya baru kali ini saya berniat mereview. Bukan karena yang sebelumnya tak puas tapi murni karena memang lagi tidak ingin. Maaf jika review ini tidak memuaskan karena terus terang saya tidak pernah mereview buku setebal dan serumit ini.
Inferno, butuh 5 hari saya membaca buku ini. Tidak seperti biasa, ini memang terlalu lama karena ada hal lain yang harus saya bereskan. Saat buku ini rilis bulan Mei lalu terus terang saya tidak membaca satu review pun dari orang-orang yang sudah membaca dan para kritikus buku. Peduli amat bagus atau jelek tetap akan saya beli juga. Tapi, semalam akhirnya saya membaca beberapa review. Ternyata banyak kritik tajam tentang buku ini dan tentunya berujung pada sang penulis. Sedikit melenceng, membaca review ini saya tersadar bahwa ada beberapa pembaca yang suka menuntut lebih tanpa menyadari kerja keras dan susahnya penulis. Ada juga yang mengkritik tapi justru terlihat seperti orang iri, mungkin mereka harus mencoba menulis dan menghasilkan karya terkenal dengan penjualan tinggi.
Ok, mungkin saya salah satu pembaca yang suka dengan buku ini. Saya suka sejarah dan bertahun-tahun belajar hubungan internasional, organisasi internasional, terorisme, dst. Meski demikian, saya juga harus melihat secara keseluruhan dari buku ini. Dan Brown secara garis besar mengambil ide dari Inferno-nya Dante Alighieri dan overpopulasi. Sebenarnya saya mengerti keterkaitan ide ini tapi saat membangun cerita ada hal-hal yang kurang greget. Sederhananya, Dan Brown terlalu lama membicarakan tempat-tempat yang dikunjungi Robert Langdon serta benda-benda yang ada di situ. Akibatnya, unsur ketegangan yang diperoleh pembaca terpotong-potong. Karena hal ini pula saya sempat behenti membaca untuk lebih dahulu mencari gambar-gambar tempat dan benda yang diceritakan untuk mendukung membayangkan perjalanan dalam buku ini. Bagusnya saya jadi tahu karena selama ini tidak terlalu familiar dengan tempat-tempat yang disebutkan terutama Florence.
Mungkin dari segi meramu dan kerumitan kode bagi saya tetaplah The Da Vinci Code yang terbaik dari karya-karya Dan Brown. Sangat sulit untuk mengalahkan buku pertamanya tapi satu hal yang tak hilang adalah keahliannya menjaga agar pembaca tetap penasaran dan ceritanya tidak terbaca. Beberapa kali menduga-duga dan meski telah yakin tetap saja saya terkelabui. Ada kalimat dalam buku ini yang lebih-kurang, menurut yang saya pahami, bahwa apa yang kita lihat belum tentu itu yang dimaksud. Ya… ada bagian dari buku ini yang beberapa halaman barulah saya sadari dan itu membuat ingin mengumpat sekaligus mengakui kelihaian penulis.
Membaca buku ini mulai dari ucapan terima kasih penulis, jelas bahwa riset dan kerja keras untuk menghasilkan buku ini luar biasa. Validitas data dan sumber yang dijadikan referensi pun tidak diragukan. Mungkin ada yang meragukan keberadaan organisasi swasta “Konsorsium” dalam buku ini tapi saya bisa katakan itu memang ada. Setelah membaca hingga akhir saya membayangkan jika difilmkan akan luar biasa (dengan penulis skenario yang bagus tentunya). Untuk melihat hal ini menjadi kenyataan masih lama karena baru 2015 Inferno dijadwalkan akan rilis dengan sutradara Ron Howard (salah satu sutradara favorit saya apalagi setelah dia berhasil dengan Rush).
Bagi yang belum baca buku ini dan berniat untuk baca ya nikmati saja dengan teliti. Pendapat orang memang beda-beda, kalian akan punya pendapat sendiri setelah membacanya karena tidak selamanya orang-orang memandang dari arah yang sama. :)

Kamis, 01 Agustus 2013

Tender Care Protecting Balm


Tender Care Protecting Balm merupakan pelembab yang bisa digunakan di area kulit manapun dan cocok untuk segala jenis kulit. Saya telah memakai produk ini sejak bertahun-tahun lalu tapi belinya pas diskon saja karena kemahalan menurut saya  untuk ukuran seiprit itu. Saya pakenya ya di bagian-bagian yang kering terutama area sekitar bibir. Meski produk ini terlihat berwarna kekuningan tapi tidak ada bekas saat dipakai jadi saya tidak perlu khawatir memakainya di area muka. Kadang produk ini saya pake juga di bibir sebelum tidur.

Produk yang mengandung beeswax dan vegetable oils  ini meski dikemas dalam tempat yang unik (mirip telur  ayam kampung) sayangnya harus dicolek-colek untuk memakainya, berasa kurang higenis (perasaan saja sih tapi g’ peduli-peduli amat). Selain itu, harus dipakai terus-menerus supaya cepat habis karena menurut pengalaman saya bila terlalu lama baunya jadi gimana gitu. Overall produk ini tetap oke menurut saya.

Minggu, 14 April 2013

Review Autumn Once More



Bingung sih bagaimana memulai mereview buku ini jadi anggap saja lagi nyerocos santai jangan dimasukkan di hati jika ada kata-kata yang tak berkenan. Jujur, saya beli buku ini karena pengen “kenalan” dengan Bapak Aldebaran Risjad. Ada yang merasa familiar dengan nama ini? Yup, jika kalian pembaca karya-karya Ika Natassa pasti sudah tahu. Kenal Harris Risjad yang PK di Antologi Rasa? Nama belakangnya mirip kan? Ya kaliii... mereka memang kakak-adik. Pokoknya saya cuma beli karena itu, peduli amat sama porsinya yang cuma seiprit. Dan, agak jahat sih, peduli amat sama cerita-cerita lainnya. -.-v
Buku ini memang kumcer alias kumpulan cerpen yang dikeroyok sama beberapa penulis dan beberapa editor GPU. Tapi, yang saya tahu dan pernah baca bukunya cuma k’ Ika. Maaf! Kalau editor sih wajar ada yang g’ saya tahu tapi penulis yang karyanya sudah banyak? Mau gimana lagi kalau memang saya tidak pernah baca bukunya. Tapi, sekarang saya sudah baca meski sebatas cerpen. Menurut saya, bagus juga tidak ada yang pernah saya baca sebelumnya jadi acara membanding-bandingkan di otak yang tak seberapa ini semakin tidak ribet. So, mari kita bahas satu per satu cerpen yang ada dalam kumcer ini (lagi g’ malas)!

1.      Be Careful What You Wish For (Alia Zalea)
Awalnya si tokoh Aku ini tidak terlalu memperhatikan Gonta, dia lebih memperhatikan Mahendra yang terkenal paling ganteng seantero perusahaan. Butuh waktu lama akhirnya dia sadar dengan keberadaan Gonta, ya orang jatuh cinta segala informasi pun dicari dari dunia nyata sampai maya pun digali. Tapi, suatu kejadian menjadi titik awal mereka akhirnya tak bertemu hingga beberapa bulan kemudian. Bagaimana janji (menurutku sih harapan) yang dia rangkai saat tak pernah bertemu Gonta lagi?
Rasanya datar dan sudah biasa mungkin karena ruang cerpen terlalu sempit untuk berkembang bagi cerita ini. Di beberapa bagian, terutama penggambaran tokoh Gonta, saya sempat senyum-senyum tapi sayangnya tidak berkembang jadi berbunga-bunga.

2.      Thirty Something (Anastasia Aemilia)
Rachel adalah seorang wanita yang berumur 30-an. Dia hidup dalam keluarga ya tahulah gimana kalau seorang wanita berumur masih lajang. Eyangnya kemudian menjodohkan sampai dia bertunangan. Sebenarnya sudah lama dia memendam rasa pada Erik temannya sedari SMA yang kini akan pindah ke Jepang untuk bekerja. Saat pesta perpisahan mereka Erik tiba-tiba menyatakan perasaannya yang ternyata juga mencintai Rachel. Mana yang akan Rachel pilih?
Pengen teriak-teriak di bagian akhir cerita ini, mungkin jika saya di situasi yang sama akan mengambil langkah yang sebaliknya atau mungkin juga sama. Mengalir, cukup puas dengan ramuan ceritanya hingga akhir.

3.      Stuck With You (Christina Juzwar)
Terjebak beberapa kali dalam lift dengan orang sama, ganteng, jabatan ok, tapi jutek. Mau?
Ceritanya lagi-lagi sebenarnya biasa dan pasti ada yang mempermasalahkan liftnya macet berkali-kali. Saya anggap saja itu campur tangan Tuhan. Yang pasti setelah membaca cerita ini jadi pengen ngesot di lift dan kayaknya bakal senyum-senyum kalau ingat cerita ini saat di lift.

4.      Jack Daniel’s vs Orange Juice (Harriska Adiati)
“Assalamu’alaikum, Pak Haji!”
Ngakak karena saat bagian ini yang saya bayangkan iklan obat batuk. Salut sama yang nulis, cewek tapi jadi tokoh cowok di cerpen ini. Baca sendiri saja deh, asyik, dan ya…ya…cinta bisa merubah seseorang.

5.      Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku (Hetih Rusli)
Sumpah saya g’ ngerti meski akhirnya tahu juga inti ceritanya. Entah otak saya yang bermasalah atau gimana. Mungkin bakal lebih dapat seandainya gaya berceritanya sedikit berbeda atau setidaknya tokohnya bernama.

6.      Critical Eleven (Ika Natassa)
Cerita ini sebenarnya saya simpan buat dibaca terakhir dan itu benar-benar saya lakukan. Bagi yang tidak tahu jika cerita ini akan berlanjut dalam sebuah novel utuh mungkin akan terasa datar walau setiap kalimatnya sangat bisa saya nikmati. Akhirnya juga bakal terasa digantung atau ada yang menebak bahwa Ale dan Tanya tidak akan pernah lagi bertemu. Sebenarnya ini g’ cukup sih buat kenalan sama Ale tapi yang menulis kasihnya cuma segini. Mau teriak-teriak supaya diselesaikan cepat tapi nanti lahir premature, bukan berarti yang lahir premature selalu berujung tidak baik. Saya sabar menanti sajalah sambil menghafal 15 halaman ini (sedih).
Critical Eleven ini sebenarnya tentang apa? Cari tahu sendiri saja ya… Saya mau ikut abang Ale ke rig, dia 200 hari per tahun di tempat itu bosan jadi mau ditemani. Menemani seumur hidup juga g’ apa-apa, mendaki gunung dan berburu juga boleh (mulai ngawur). Selamat menanti #TeamAle!

7.      Autumn Once More (Ilana Tan)
Cerita ini merupakan side story dari novel Autumn in Paris karya Ilana Tan. Saat itu Tara dan Tatsuya ke Disneyland Paris, di sinilah Tatsuya menyadari pertama kali bahwa dia jatuh cinta pada Tara. Biasa saja, datar menuju bosan, mungkin saya akan merasa sedikit tersentuh jika membaca satu novelnya langsung. Entahlah…

8.      Her Footprints on His Heart (Lea Agustina Citra)
Ariana akan menikah dengan Rendy. Tapi, tiba-tiba Anne yang merupakan cinta pertama Rendy muncul. Wanita yang dulu tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Suka, meski sudah saya tebak dari awal bagaimana akhirnya. Bikin senyum-senyum, tepatnya sedikit mengusik ingatan saya. Hmmm…

9.      Love is a Verb (Meilia Kusumadewi)
Apa yang penting buat cewek belum tentu buat cowok. Buat kaum Adam mungkin itu hal sepele tapi bagi kaum Hawa sebaliknya.
Masalah biasa sih sebenarnya tapi ya lumayanlah cara berceritanya jadi cukup menyenangkan saat membaca cerita ini.

10.  Perkara Bulu Mata (Nina Addison)
Gara-gara baca judulnya saya malah kedip-kedipin mata dan menyentuh bulu mata. Pas baca, ternyata oh ternyata. Menghibur, ada bau-bau klo pernah nonton Friends tahulah maksudnya bahkan dalam cerita ini disebut kok. Bolehlah, saya suka tentang ide bulu matanya ini sih.

11.  The Unexpected Surprise (Nina Andiana)
Setelah baca cerita ini jadi semakin pengen pulang ketemu mama dan papa. Ketemu ya paling juga berdebat, baikan, ketawa, cerita ini dan itu. Sama dengan hidup kita, dalam cerita ini ada the unexpected surprise juga.

12.  Senja yang Sempurna (Rosi L. Simamora)
Dari semua cerpen, cerita ini yang paling beda terutama gaya bertuturnya. G’ sulit sebenarnya memahami kalimat-kalimat indahnya, tipe yang kadang saya suka kadang tidak.

13.  Cinta 2x24 Jam (Shandy Tan)
Awalnya saya mengira tokoh Aku adalah pegawai cewek yang ikut menguping acara rumpi pegawai cewek lainnya di ruangan TU. Pas tokoh Lingga muncul baru deh saya sadar siapa sebenarnya yang sedang berbicara. Dari awal gaya bertutur penulis sebagai tokoh Aku sudah mengingatkan saya pada gaya Sophie Kinsella di Twenties Girl. Setelah sadar dengan tokoh Aku, ingatan saya justru bercampur dengan siluman buah persik (kalau g’ salah) dari kisah Kera Sakti (demi apa?). Saya menikmati cerita ini termasuk (?) kejutan yang menggelikan sebelum cerita benar-benar berakhir.

Setelah membaca kumcer ini, lumayanlah bisa membuat senyum-senyum sendiri walau terkadang berkerut dan bosan juga. Cerpen karya beberapa editor g’ kalah kok dari yang memang kita kenal sebagai penulis. G’ menyesallah belinya apalagi sekalian beramal karena seluruh royalti buku ini akan disumbangkan.