Ulang Tahun
Adakah makna untukmu?
Atau, hanya sekedar waktu berlalu?
Pergi, tak kembali.
(#puisi malam, @gojimal, @nulisbuku)
Jumat, 12 Oktober 2012
Perempuan yang Melukis Wajah
Ketertarikan tingkat
tinggi terhadap buku, mungkin kali ini lebih tepat disebut terhadap buku yang
didiskon, bisa menyebabkan kekalapan bagi saya. Awalnya tidak berminat untuk
membeli tapi pada akhirnya yang terjadi adalah sebaliknya, semua karena
iming-iming diskon. Ini pulalah yang terjadi hingga buku ini ada dalam
genggaman saya. Walau telah terlanjur membelinya, di rumah sempat terbersit keinginan
untuk tidak membacanya dan ingin menjualnya saja. Saya memang tergolong orang
yang jarang membaca buku penulis Indonesia, bukan meragukan mereka tapi saya
justru ragu dengan diri saya sendiri untuk bisa menyukai karya mereka.
Kedengarannya seperti mengada-ada memang tapi butuh beberapa jam untuk saya
memutuskan membuka dan membaca buku ini.
Buku ini terdiri atas
11 cerita pendek yang ditulis oleh 8 penulis. Nama-nama mereka mungkin sudah
tidak asing lagi bagi kita apalagi bagi para penghuni dunia maya terutama
twitter dan blog.
Cerita pertama atau
lembaran-lembaran awal sebuah buku tentulah sangat menentukan apakah kita akan
betah membacanya atau tidak. Saat membaca cerita pertama bahkan paragraf
pertama buku ini saya sudah menyatakan bahwa saya telah jatuh cinta dan mungkin
akan lebih mencintai buku ini.
Humsafar
(Hanny Kusumawati)
“Julia
pernah bilang, cinta pada pandangan pertama hanya diperuntukkan bagi mereka
yang beruntung., sebaliknya, harus berurusan dengan cinta pada pandangan
terakhir. Cinta bukan hadir pada saat mereka saling menyapa, ketika berkata
“hai” atau “halo”, tetapi justru pada saat mereka harus berpisah dan saling
berucap “selamat tinggal”.”
Paragraf inilah yang membuat saya bertahan, rasa
penasaran saya telah tergelitik untuk mengetahui kelanjutan cerita ini. Insan berlawanan
jenis yang berasal dari negara yang berbeda, latar belakang dan pekerjaan yang
berbeda, bertemu dalam waktu yang singkat namun sanggup menhadirkan
ketertarikan dan keterikatan yang tak sesaat. Gaya penulis menceritakaannya
membuat saya teringat pada penulis Korea Selatan, Kyung Sook Shin (Please Look
After Mom). Dia bercerita dari sudut pandang pria yang sejak lama telah
mengenal sosok Julia, lama sebelum Shah hadir dalam hidupnya, pria yang selalu
menemaninya.
Selesai dengan cerita pertama, saya berpikir untuk
berhenti membaca. Ingin rasanya menunggu hujan turun agar lebih meresapinya.
Kesemua cerita dalam buku ini memang melibatkan hujan, ya namanya juga ’11
cerita pendek di hari hujan’. Bertahan selama 2 hari, saya nyatanya tergoda
untuk melanjutkannya. Saya takkan menunggu hujan tapi akan membacanya lagi saat
hujan turun untuk merasakan perbedaannya.
Kala membaca cerita-cerita berikutnya saya berusaha
untuk menangkap beberapa hal yang ingin disampaikan penulis. Hal ini tidaklah
mudah, malah muncul keraguan akan kebenaran interpertasi saya tentang cerita
tersebut. Saya hanya akan memilih beberapa cerita dan pendapat saya tentangnya.
Daun
Palma (Wisnu Nugroho)
Membaca cerita ini dan membayangkannya seakan
seperti sinetron dimana tokoh utamanya menurut bahasa anak gaul zaman sekarang “lagi
galau”. Mengesampingkan semua hal itu, penulis menggambarkan dengan indah
perasaan pria yang tak bisa lagi bersama dengan kekasihnya. Awalnya sedih tapi
dia kemudian bisa bangkit meski butuh waktu yang cukup lama. Perasaan memang
tak cukup hanya dengan kata “galau”, akan lebih menarik jika dilukiskan dengan
rangkaian kata penuh makna.
Lelaki
Naga (Ndoro Kakung)
Proses pendewasaan diri akan berjalan seiring waktu
berlalu. Tapi, itu tergantung seberapa dalam kita belajar dari sebuah
pengalaman diri atau pun orang lain.
“Dalam
kesedihan dan kearifannya, waktu adalah teman yang baik.”
Kematangan penulis sangat terlihat dan terasa dalam
cerita ini. Bagi saya, masih banyak hal luar biasa yang tidak bisa didapatkan
karena kurangnya pengalaman yang saya miliki.
Enam
Jam (Hanny Kusumawati)
Mengapa judulnya Enam Jam? Karena tokoh dari cerita
ini hanya punya waktu enam jam bersama wanita yang sebenarnya dia cintai
sebelum harus menikah.
Nai adalah teman Bian sejak SD, sampai saat dia dan
keluarganya kecelakaan pun yang diingat hanyalah nomor telepon rumah Nai, bukan
nomor telepon pacarnya, Layla. Nai sudah berhenti mencintai Bian, lebih tepatnya
menerima bahwa lelaki itu lebih memilih wanita lain. Meski akhirnya karena
keadaan Bian harus menikah dengan Layla, dia sebenarnya mencintai Nai.
“Setiap
pilihan punya konsekuensi yang harus ditanggung. Dan kita, kita bukan anak-anak
lagi.”
Keputusan
yang kita ambil harus dihadapi apapun akibatnya. Banyak kesempatan telah
diberikan hidup hingga rasanya tak bijak untuk terus menyesal, kita harus terus
berjalan. Cerita ini membuat saya ingin mengutip perkataan McDreamy pada adik
iparnya, Lexy Grey, dalam drama seri Grey’s Anatomy.
“Make
sure you want him because you want him.”
Perempuan
yang Melukis Wajah (Karmin Winarta)
Tak perlu berpanjang-lebar untuk melukiskan cerita
ini. Cinta memang gila. Dan, kita bisa benar-benar gila karena cinta.
Hujan.
Deras Sekali (M. Aan Mansyur)
Ini ada cerita terakhir dalam buku ini, saya bisa
benar-benar merasakan nuansa klimaks keseluruhan buku setelah membacanya.
Bagaimana saya harus menjabarkannya? Sederhana, menarik, lucu. Saya benci
perselingkuhan tapi cerita ini tidak disajikan dalam gaya yang membuat kita
jengkel dan mengutuk Perselingkuhan terjadi dalam masyarat dan banyak faktor
yang mendasarinya. Anda selingkuh? Pasangan Anda selingkuh? Atau, sama-sama
selingkuh? Itulah yang muncul dalam pikiran saya. Jadi jika diharuskan, mana
yang akan Anda pilih?
Buku ini adalah karya
yang mengundang kekaguman, cantik laksana pelangi dikala hujan telah membasahi
bumi. Suatu kepuasaan bisa menikmatinya.
Minggu, 12 Agustus 2012
Twivortiare by Ika Natassa ( versi Gramedia)
Tidak
tahu harus memulai dari mana untuk menulis review buku Twivortiare ini bahkan
saya tidak tahu akan menulis apa.
Intinya, this is AWESOME book jadi kamu harus beli dan baca. Tapi, bagi
yang baru tahu buku ini, sebaiknya beli Divortiare yang merupakan buku pertama
dari kisah hidup The Wicaksonos. Nanti klo tidak beli sekalian, kamu malah
bolak-balik toko buku karena penasaraan. Bagi yang di bawah umur dari pada baca
yang “ecek-ecek” alias kurang bermutu mending baca ini but adegan berbahayanya don’t
try at home or anywhere ya… Lebih
bagus lagi kalau kamu tidak usah baca dulu. Hehehe… Ribet…Pusiiing… Baca saja
deh, adegannya tidak bahaya-bahaya amat kok asal kamu waras saja, resikonya
tanggung sendiri kalau otak kamu matang duluan. :p (setelah baca review ini
pasti banyak yang mau lempar saya dengan tomat busuk)
Berburu
buku k’ Ika Natassa itu asyik tapi bikin capek. Banyak cerita di balik ajang
pemburuan saya di setiap bukunya. Awal tahu buku k’ Ika itu dari juniorku yang
lagi baca Divortiare hasil cekokan temannya. Dia dengan serunya ngetwit about
that book so dengan kekepoan saya yang tingkat dewa durjana g’
tanggung-tanggung bertanya judulnya apa dan difotokan. Capcuss dong saya ke
mall untuk beli dan yeah dapat. Untuk
dapat AVYW dan AR tidak semudah itu karena bukunya ada di mall yang berbeda
dengan jarak dan waktu yang harus ditempuh hampir 2 jam, panas dan macet pula.
Tapi, capek mengumpulkan bukunya itu rasanya tidak ada apa-apanya dibanding
dengan kepuasan berkuadrat-kuadrat setelah membacanya.
Pas
baca Divortiare, saya iseng dong cari akun twitternya k’ Ika, nemu tapi sempat kecewa,
dari situ saya tahu kalau sudah terlambat untuk pre-order Twivortiare terbitan nulisbuku. Kecewanya saya hanya bertahan beberapa
hari karena ternyata ada waiting list,
rezeki tak kemana jadi dapat lagi beserta tanda tangan penulisnya. Selang beberapa
bulan, ada kabar kalau Twivortiare bakal diterbitkan oleh Gramedia. Kali ini dugeun-dugeun (bahasa Korea) menunggu jadwal PO
dari Gramedia, mana awalnya bilang cuma 200 buku yang bakal ditandatangani.
Sempat salah PO yang harusnya pesan 2 malah pesan 1, jaringan terganggu,
buru-buru ke ATM dengan rambut setengah basah langsung pake jilbab, tanpa bedak
hanya lipbalm. Baca cerita saya mendapatkan buku-buku k’ Ika seharusnya sudah
jadi jaminan buat kalian untuk ikut membeli dan membacanya, saya itu tidak
pernah mau jungkir-balik, salto-salto buat mendapatkan buku yang tidak worth it. So, ke toko buku gih cari dan
beli! Catat ya, BELI! Jangan pinjam karena kalau tengah malam, malam Jumat
pula, tiba-tiba kamu mau baca bagaimana? Tidak bisa tidur nanti…
Gambaran
Twivortiare itu seperti apa? Berikut ini hasil wawancara saya dengan diri saya
sendiri. (Kemudian, saya disangka berkepribadian ganda. *jewer satu-satu*)
Q: Twivortiare gimana? Kayak twitter ya?
A: Yup, jadi tokoh utama di Divortiare itu
punya akun @alexandrarheaw di twitterland. Nah, tweet- tweetnya itu dikumpulkan
terus dijadikan satu buku, jadi deh Twivortiare
Q: Kenapa kamu mau beli lagi, bukannya sudah
punya yang versi sebelumnya?
A: Suka-suka saya dong…MASALAH BUAT LO?
Q: Maksud saya bedanya apa?
A: Lebih tebal pastinya, obrolan dengan Wina
lebih banyak, endingnya juga beda.
Q: Persamaannya?
A: Sama-sama bikin saya menangis, tertawa,
tergila-gila sama Beno Wicaksono tapi juga mengidolakan Alexandra Rhea
Wicaksono, mengingatkan kalau dulu pernah naksir dokter dan pernah ditaksir
dokter.
Q: Siapa yang suruh kamu curhat?
A: APA? (mulai marah)
Q: Maksud saya, bagaimana menurut kamu
tentang Twivortiare ini?
A: Sangat natural, terkadang saya merasa
mereka benar-benar ada sama seperti teman-teman saya yang memiliki akun di
twitterland. Manusiawi banget dengan lika-liku pernikahan mereka yang
naik-turun, suami-istri yang sama-sama bekerja dalam suasana ibukota yang ruwet.
Love it…
Q: Setelah membaca buku ini apa yang kamu
pikirkan?
A: Sampai kapan @alexandrarheaw akan
ngetwit? Inikan tumbuh bersama kita so mungkin menyenangkan kali ya kalau
sampai tua. Nanti dia hamil tidak ya? Seru pasti kalau dia punya anak kita
menunggu 9 bulan sampai dia melahirkan, anaknya melewati tahap kehidupan. Beno
pasti tambah ‘cerewet’ kalau Lexy hamil. Pokoknya panjang deh khayalan saya…
Q: Quote yang kamu suka dari buku ini?
A: '...it's impossible for us to find a
perfect spouse if we model him/her toward someone, atau toward our own sets of
criteria.'
Q: Dengar-dengar cerita tentang The
Wicaksonos ini mau di filmkan. Pendapat kamu?
A: Saya sih senang-senang saja walaupun agak
takut juga nanti merusak gambaran saya tentang tokoh-tokohnya. Masalahnya ada
beberapa buku yang saya suka dan difilmkan jadinya mengecewakan, semacam trauma
gitu. Semoga dapat pemain dan sutradara yang oklah. Naskahnya juga harus ok, k’
Ika saja yang nulis jadi rasanya tetap terjaga (kayak bahas makanan).
A: BELILAH dan beli semua buku k’ Ika Natassa!
Tidak rugi kok, cuma boros di air mata saja. Follow @alexandrarheaw!
Q: Pesan buat yang sudah baca?
A: Semoga kita semua bertemu pasangan yang
terbaik buat kita. Ketemu jodoh di dunia yang ternyata juga jodoh kita di
akhirat. Tetap ikuti twit @alexandrarheaw.
Q: Pesan buat Ika Natassa?
A: Terima kasih telah menulis buku-buku yang
bikin kecanduan. Di tunggu buku selanjutnya.
Q: Pesan buat Tuhan?
A: Ehm… Tuhan sudah mengerti… Satu lagi,
terima kasih sudah memberi k’ Ika kemampuan menulis yang luar biasa, semoga dia
sehat selalu.
Q: Terima kasih sudah bersedia di
tanya-tanya walau jawabannya kurang bermutu!
A: Sama-sama… Pertanyaanmu juga kurang
berkualitas!
Saya
sudah cukup berkoar-koar, intinya tetap memaksa untuk beli. Jadi belilah, tidak
ada ruginya. Kalau kalian tidak suka, jalan terakhir jual saja karena banyak
yang mau beli, jangan susah! :p (semoga tidak berganti jadi dilempar telur
busuk)
XOXO…
Senin, 04 Juni 2012
I've Got Your Number by Sophie Kinsella
Berbulan-bulan menunggu
akhirnya terjemahan I’ve Got Your Number by Sophie Kinsella ada dalam
genggaman. Kenapa saya sangat menanti buku ini? Oke, bukan itu sebenarnya
pertanyaan intinya karena saya memang selalu menanti seluruh karya penulis satu
ini, baik saat dia memakai nama Sophie Kinsella maupun saat memakai nama
gadisnya, Madeleine Wickham. Saya memang penggemar SK jadi jangan heran jika
saya banyak memuji karyanya tapi saat mereview buku-bukunya saya selalu
berusaha untuk berimbang.
Belum pernah membaca
buku-buku SK? Buku yang paling terkenal dari penulis ini tentunya Confessions
of a Shopaholic yang pernah difilmkan. Yang terbaru I’ve Got Your Number. Ini
buku tentang apa? Apakah seseorang yang berhasil mendapatkan nomor orang yang
dia sukai? Big NO, tidak sesederhana itu dan bukan SK jika dia menjabarkannya
dengan biasa saja tanpa sisi menarik serta selera humor khasnya yang membuat
kita tidak bisa berhenti membuka setiap halaman sampai benar-benar berakhir.
Saat membaca sinopsis di belakang buku ini mungkin Anda akan sedikit mendapat
petunjuk tentang jalan cerita buku ini. Tetapi, hanya sedikit dan justru
membuat penasaran. Jadi, bagaimana jika saya membuat Anda lebih penasaran?
Lemme try…
Kisah ini dimulai
dengan hilangnya cincin Poppy Wyatt di suatu perjamuan mewah bersama
teman-temannya (Natasha, Clare, Emily, Annalise, Ruby) dan wedding planner (Lucinda) beserta asistennya (Clemency). Sayangnya
dia tidak dapat mengingat runut kejadian hilangnya cincin itu dengan jelas
karena telah minum champagne beberapa
gelas ditambah lagi situasi yang kacau balau saat itu. Jadilah ia krasak-krusuk
mencari cincinnya di ruangan tempat jamuan, menelpon teman-temannnya, dan menyebar
nomor handphone-nya ke
pegawai-pegawai di hotel itu kalau-kalau ada yang mengetahui keberadaan
cincinnya.
Kenapa cincin itu
sebegitu pentingnya? Tentu saja, cincin itu adalah cincin zamrud kualitas bagus
dengan berlian berpotongan baguette,
harganya mungkin sekitar 25.000 poundsterling. Ditambah lagi merupakan warisan
turun-temurun dalam keluarga tunangannya. Bukan hanya karena betapa berharganya
cincin itu Poppy harus panik tapi karena calon mertuanya akan tiba dari Amerika
dan pasti ingin melihat cincin itu berada di jari calon menantunya.
Poppy Wyatt adalah
seorang fisioterapi bertemu dengan Magnus Tavish yang mulanya adalah pasien di
tempat dia bekerja namun kemudian menjadi tunangannya. Sebenarnya sih bukan dia
yang harus menangani Magnus tapi karena Annalise ingin bertukar janji temu maka
Poppy akhirnya mengambil alih. Hal ini sedikit membuat Annalise cemburu tapi
mereka tetap berteman. Magnus Tavish seorang doktor dengan spesialisasi simbol kultural,
berasal dari keluarga terpelajar dan memiliki gelar kebangsawanan. Ayahnya Prof.
Atony Tavish, ibunya Prof. Wanda Brook Tavish, kakaknya Conrad beserta istrinya
Margot, semua telah menulis buku. Adiknya Felix walau baru 17 tahun tapi sangat
suka membaca dan menulis. Mereka bahkan berencana menerbitkan jurnal
bersama-sama, tentunya tanpa melibatkan Poppy. Ia memang nampaknya sejak awal tidak
terlalu disukai oleh calon mertuanya namun Magnus berpendapat bahwa yang terpenting
adalah mereka saling mencintai. Kondisi dalam keluarga ini saja sudah membuat
Poppy tertekan apa lagi dengan hilangnya cincin pertunangannya. Apa dia akan
berterus terang? Bagaimana cara menutupinya jika dia memang harus berbohong?
Kembali ke awal, ketika
Poppy masih di hotel, tiba-tiba dia menerima sms dari orang yang nampaknya
melihat cincinnya tapi sayang sinyal di hotel itu payah jadi smsnya hanya
sepotong. Untuk mencari sinyal Poppy pun keluar dari hotel itu sambil mengacungkan
ponselnya ke udara, malangnya pencopet yang mengendarai sepeda menyambar handphone-nya. Gawat kan? Sms tadi dari
siapa dia pun tak tahu. Nomor di hp
itu sudah dia sebar, bagaimana jika ada yang menemukan cincinnya?
Untung baginya, dia
menemukan handphone dengan stiker White Global Consulting Group di belakangnya.
Mungkin itu milik Violet Russel pegawai perusahaan itu yang tanda pengenal
konfrensinya ada bersama hp itu di
tempat sampah hotel. Ya, dia menemukan hp di tempat sampah jika kalian butuh
saya mengulanginya. Ternyata hp itu
aktif, tiba-tiba ada telpon, karena tak ingin ketahuan dia menirukan suara
wanita penerima voice-mail. Bodohnya,
orang itu malah meninggalkan pesan tentang Scottie dan kata-kata lain yang
mirip kode rahasia. Nah, siapa dan kemana Violet sebenarnya? Siapa pula
penelpon misterius itu?
Apa Poppy
sebenarnya beruntung menemukan hp itu atau tidak? Beruntung karena dia
bisa memiliki nomor baru untuk segera dibagikan pada petugas hotel dan
temannya. Tidak beruntung karena Sam Roxton, bos Violet tak lama kemudian
menelpon, karena urusannya sangat urgen Poppy akhirnya bersedia menolong.
Sumpah ini salah satu bagian lucu, bagaimana Poppy menolong dengan nada lagu Single Ladies dari Beyonce?
Apa saya sudah
membocorkan banyak hal dari buku ini? Lemme tell u something, kalau saya ketemu
dengan cowok seperti Sam Roxton, saya bisa jatuh cinta. Yang pasti dia tampan,
menjawab email dan sms yang dia rasa penting dengan bahasa singkat, padat dan
jelas. Perlu digarisbawahi tanpa “ J “ apalagi “xoxo”.
Di mana bikin jatuh cintanya? Cari tahu sendiri dong, harus dinikmati secara
perlahan… Hehehe…
Singkat kata singkat
cerita, Sam Roxton pun bersedia meminjamkan handphone
perusahaan itu untuk sementara pada Poppy dengan syarat dia harus langsung
meneruskan telepon, sms, dan email padanya. Kesibukkan baru dalam kehidupan
Poppy pun resmi bertambah. Bagaimana dia menjalani hidup dengan berbagi hp dengan orang lain? Apa sama dengan
berbagi hidup dengan seorang kekasih?
Bagaimana nantinya hubungan
Poppy dengan keluarga tunangannya? Bagaimana dengan persiapan pernikahannya? Apakah
tidak masalah bila telepon perusahaan dipegang oleh orang luar? Siapa pula
wanita dalam perusahaan yang sering mengirim email “aneh” dengan banyak huruf
besar ke Sam? Siapa “Dad” yang juga mengirim email ke Sam jika sebenarnya ayahnya
ada di Hong Kong bukan di Hampshire? Siapa Scottie yang akhirnya juga menelpon
dengan kode-kode rahasia itu? Apa yang akan terjadi dan bagaimana akhir cerita
ini? Apa kabar dengan cincin zamrud yang mengawali kisah ini? Di mana gerangan dia
berada? Jika saya menderetkan begitu banyak pertanyaan lagi kalian mungkin akan
jengkel jadi lebih baik membacanya sendiri.
Saat membaca buku ini
saya merasa kerinduan saya terhadap Rebecca Bloomwood (tokoh wanita di Confessions
of a Shopaholic) sedikit terobati. Selera humor dan kejahilan ala SK cukup terasa.
Satu hal yang juga saya suka dari SK adalah ide dalam ceritanya dan saya
menghargai risetnya untuk ide itu. Dari tadi saya terus memuji karyanya jadi
tak adil rasa bila kekurangannya tak terungkapkan. Dalam buku ini ada beberapa
catatan kaki dan bagi saya itu cukup mengganggu dan terkadang tidak perlu
diletakkan di sana, bisa saja dijelaskan bersama dengan cerita pokok secara
utuh. Kenapa ada catatan kaki? Mungkin karena keluarga Tavish bergelut dengan
buku dan jurnal yang penuh dengan catatan kaki. Atau, mungkin karena ternyata
Poppy juga suka catatan kaki. Entahlah… Yang terpenting saya tetap menikmati
ceritanya… xoxo
“Namun, terkadang kau
harus berani. Terkadang kau harus menunjukkan kepada orang lain apa yang
penting dalam hidup ini. Dan mempunyai firasat kuat bahwa yang kulakukan ini
benar. Mungkin tidak mudah –tapi benar.” (halaman 193)
Selasa, 15 Mei 2012
Twivortiare by Ika Natassa
Seumur-umur saya tidak pernah mengoleksi novel yang penulisnya orang
Indonesia, melirik raknya pun jarang (terserah deh orang mau bilang apa,
sekarang saya mulai tobat kok). Tp, setelah baca Divortiare, saya
akhirnya memutuskan untuk mengoleksi semua buku Ika Natassa. Damn,
sekarang saya merasa bangkrut sekaligus puas.
Di Divortiare kita ditinggalkan pada ending yang 'ya... lo pikir saja sendiri lanjutannya setelah Beno dan Lexy (lebih suka panggilan ini) sama2 ke NasGor Sabang yg fenomenal itu!' Bagi orang kepo tingkat dewa seperti saya, bakal tersiksa deh menerka-nerka bagaimana perjalanan hidup mereka nantinya. Saat Twivortiare sudah ada ditangan dan saya mulai membaca, yang saya tahu setelahnya kekepoanku masih tidak akan terhenti. Penyajian cerita dengan gaya ngetwit seakan membuat kita merasa memiliki teman yang menceritakan kehidupannya dan itu terasa nyata. Novel ini menunjukkan sesuatu secara sederhana but ngena banget. Twit Lexy yang saya suka banget dari Twivotiare ini '...it's impossible for us to find a perfect spouse if we model him/her toward someone, atau toward our own sets of criteria.' N', di bagian akhir buku ini justru saya dibuat menangis gara-gara suratnya Beno ke Lexy, melegakan sih... :)
Pesan saya, beli bukunya dan tetaplah follow @alexandrarheaw, ceritanya belum berakhir selama kita masih kepo. :p
XOXO
*Suatu saat saya akan review buku ini dengan lebih baik beserta buku k' Ika Natassa yang lain. Belum sempat booo... -.-v
*Buku yang saya punya limited terbitan nulisbuku dan sudah g' diproduksi lagi jd klo mau, selamat menunggu terbitan Gramedia meluncur kepasaran beberapa bulan lagi. :)
Di Divortiare kita ditinggalkan pada ending yang 'ya... lo pikir saja sendiri lanjutannya setelah Beno dan Lexy (lebih suka panggilan ini) sama2 ke NasGor Sabang yg fenomenal itu!' Bagi orang kepo tingkat dewa seperti saya, bakal tersiksa deh menerka-nerka bagaimana perjalanan hidup mereka nantinya. Saat Twivortiare sudah ada ditangan dan saya mulai membaca, yang saya tahu setelahnya kekepoanku masih tidak akan terhenti. Penyajian cerita dengan gaya ngetwit seakan membuat kita merasa memiliki teman yang menceritakan kehidupannya dan itu terasa nyata. Novel ini menunjukkan sesuatu secara sederhana but ngena banget. Twit Lexy yang saya suka banget dari Twivotiare ini '...it's impossible for us to find a perfect spouse if we model him/her toward someone, atau toward our own sets of criteria.' N', di bagian akhir buku ini justru saya dibuat menangis gara-gara suratnya Beno ke Lexy, melegakan sih... :)
Pesan saya, beli bukunya dan tetaplah follow @alexandrarheaw, ceritanya belum berakhir selama kita masih kepo. :p
XOXO
*Suatu saat saya akan review buku ini dengan lebih baik beserta buku k' Ika Natassa yang lain. Belum sempat booo... -.-v
*Buku yang saya punya limited terbitan nulisbuku dan sudah g' diproduksi lagi jd klo mau, selamat menunggu terbitan Gramedia meluncur kepasaran beberapa bulan lagi. :)
Le Petit Prince: Pangeran Cilik by Antoine de Saint-Exupéry
Sudah berkali-kali saya
berkunjung ke toko buku dan berkali-kali pula saya melewati rak tempat Le Petit
Prince dipajang. Hanya berlama-lama memandangi sampulnya kemudian berlalu,
mungkin karena tidak masuk dalam daftar buku yang ingin saya beli waktu itu.
Sampai suatu saat saya iseng-iseng mampir di toko buku, tidak ada yang dibeli
selain majalah, maka jadilah buku ini saya beli. Itu pun saya mempertimbangkan
cukup lama mulai dari sampul sampai sinopsis di cover belakang buku. Sinopsisnya
sangatlah menjamin, di situ dijelaskan bahwa buku ini termasuk buku yang paling
banyak diterjemahkan. Logikanya sederhana, mana ada penerbit yang mau kalau
buku itu tidak berpotensi akan laris.
Dari sampul, buku ini
cukup sederhana, anak kecil berambut kuning berdiri di atas planet tempat ia
tinggal dengan gunung api yang masih aktif dan tidak aktif, 4 tangkai bunga,
sebatang pohon kering, semuanya lebih kecil darinya. Dia mungkin sedang menatap
bintang, matahari, planet lain, dan mungkin bulatan kecil itu adalah bulan. Ya…
ternyata itu memang tempat tinggalnya yang kecil, saking kecilnya ia pernah 43
kali melihat matahari terbenam dalam sehari. “Dunianya” yang begitu kecil, yang
ku maknai sebagai dunia anak yang sederhana.
“Orang
dewasa tidak pernah mengerti apa-apa sendiri, maka sungguh menjemukan bagi
anak-anak, perlu memberi penjeasan terus-menerus.”
(halaman 8-9)
Kisah ini dimulai dari
tokoh Aku yang menceritakan masa kecilnya di mana orang dewasa telah mematahkan
semangatnya untuk menjadi seorang pelukis. Terkadang orang dewasa melarang dan
memerintahkan ini dan itu tanpa sadar akan dampaknya yang mungkin saja terbawa
sampai anak itu besar nanti.
Saat dewasa, tokoh Aku
akhirnya jadi seorang penerbang yang kemudian pada bagian ke II buku ini
pesawatnya jatuh di gurun di Afrika. Sedikit melenceng, Antoine
de Saint-Exupéry (penulis) dalam kehidupannya sangat
mencintai dunia penerbangan, dia adalah seorang pilot yang pernah bertugas di
berbagai belahan bumi ini. Dia juga pernah jatuh di gurun Libya dan hampir mati
kehausan selama 3 hari sebelum diselamatkan. Kembali ke tokoh Aku yang
terdampar di gurun jauh dari peradaban, di sinilah ia kemudian bertemu Pangeran
Cilik yang tiba-tiba muncul dan memintanya mengambarkan domba. Tentunya agak
sulit bagi ‘Aku’ untuk menggambarnya karena setelah peristiwa masa kecilnya tak
pernah sekalipun ia melakukanya lagi.
Setelah perkenalan
mereka, sedikit demi sedikit cerita tentang asal-muasal Pangeran Cilik terkuak.
Kisah tentang planet tempat tinggalnya. Kenapa ia meninggalkan tempat
tinggalnya itu. Tempat-tempat yang ia singgahi sebelum mencapai bumi, mulai
dari bertemu seorang raja, orang sombong, pemabuk, pengusaha, penyulut lentera,
sampai bertemu ahli bumi yang masing-masing dari mereka tinggal di planetnya
sendiri-sendiri. Lalu Pangeran Cilik akhirnya sampai di Bumi, ia menggambarkan
planet ini sangat menarik. Perjalanannya di atas bumi yang bertemu dengan ular
berbisa, bunga berkelopak 3, naik gunung yang tinggi, bertemu 5 ribu mawar yang
mirip dengan sebatang mawar yang ada di planetnya, “menjinakkan” rubah, bertemu
tukang wesel kereta api dan, pedagang pil canggih. Sampai kemudian bertemu
dengan tokoh Aku dan nantinya berpisah untuk selamanya.
Walau setiap bagiannya
hanya dijabarkan paling banyak 10 halaman beserta ilustrasi gambar, tetap tidak
mempengaruhi pesan yang ingin disampaikan, permainan katanya pun sangat
menarik. Setiap tokoh yang dia temui seakan mewakili watak manusia yang ada di
bumi ini. Saya menyukai keseluruhan novel ini, sebagai seorang wanita saya menyukai
bagian saat Pangeran Cilik bercerita tentang sebatang mawar di planetnya dan dialognya
dengan rubah yang “dijinakkannya”.
“Inilah
rahasiaku. Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang
terpenting tidak tampak di mata.” (halaman 88)
“Tetapi
kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk
selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab atas
mawarmu…” (halaman 88)
Keseluruhan cerita ini
bagi saya seakan memperlihatkan tahap kehidupan manusia dari ia kecil, dewasa,
sampai ajal menjemput. Hubungan dengan sesama manusia, makhluk lain dan, alam
sekitar. Nilai-nilai hakiki sebagai manusia dijelaskan secara sederhana namun
mendalam melalui mata anak-anak. Cerita anak yang mungkin terkadang dianggap
sepele tapi patut untuk direnungkan terutama bagi kita orang dewasa. Orang
dewasa yang sering memperumit hal yang seharusnya sederhana. Orang dewasa yang
dalam dirinya masih ada sifat kekanak-kanakan. Orang dewasa macam apa kita?
Bagaimana pun masa
kecil yang dialami terkadang kita merindukannya dan ingin kembali ke sana.
Mungkin ini yang ingin
disampaikan penulis di akhir bukunya. Tapi, saya hanyalah manusia biasa yang
belum cukup memahami hidup hingga tak dapat memahami apa yang nyata. Begitu
pula dalam menafsirkan apa yang disampaikan dalam buku ini. Ya…hidup selalu
penuh misteri namun itulah yang membuatnya menarik (nampaknya saya meminjam
kalimat dan belajar banyak dari buku ini).
Senin, 12 Maret 2012
Me and Formula 1
Sudah lama blog ini tidak saya kunjungi, ya… namanya juga nge-post cuma klo lagi mimpi saja. Jd, saat ini saya lagi mimpi? Bisa iya, bisa g’ sih… Mungkin memang saya bermimpi sedari dulu buat bisa nonton langsung ajang balap Formula 1 dan kali ini berhubung ada yang lagi bagi-bagi tiket gratis, harapan buat mewujudkannya kembali membumbung. Semoga lewat tulisan ini bisa terwujud… Aamiin…
Hobi nonton sepakbola mungkin sudah hal yang lumrah bagi golongan Hawa apalagi Adam. Tapi, nonton F1, if you are a woman, kadang-kadang dipertanyakan terutama karena banyak juga laki-laki yang g’ doyan nonton ini. Satu lagi, siap-siap saja bakal dicurigai hanya suka karena pembalapnya ada yang cakep. Demi Tuhan deh tuduhan ini… Memang sih hal itu g’ dipungkiri ada, tapi ‘hellooow!’ porsi u/ liat muka mereka itu cuma sebentar, selebihnya helm saat balapan. Klo hanya tampang, mending download foto atau video wawancara dan selebrasinya, g’ usah tongkrongi mobil memutari sirkuit selama berjam-jam. Kenapa saya jd ngedumel ya??? Lanjuuut!!! Jadi, saya bukan penikmat F1 tipe kayak itu ya… ;)
Saya serius nonton F1 mulai kelas 1 SMA tahun … (diedit, ketahuan tuanya nanti). Mulai liat-liat sih sejak SMP, zaman mba’ Feny Rose jd host-nya (mulai deh tebak-tebak usia) tapi waktu itu masih labil dan g’ ada teman yang suka nonton jadi cuma skali-kali saja, itu juga g’ sampai selesai. Awal-awal masuk SMA pastinya belum terlalu kenal sama teman-teman sekelas, kebetulan saya duduk paling depan (ketahuan g’ tinggi). Sebelum pelajaran dimulai, kayaknya masih pagi deh waktu itu, teman yg duduk di bangku belakang saya sibuk cerita, saya sih cuma nguping. Akhirnya, ketahuan mereka cerita tentang balapan mulai dari MotoGP sampai F1. G’ tahan, saya balik badan ikut nimbrung walaupun hanya tahu dikit. Saya kemudian tahu yang satu penggemar Kimi (yg ini tipe awalnya liat tampang tapi akhirnya cinta sama F1), satu lagi suka Montoya (semakin ketahuan dari zaman mana saya berasal) dan, saya waktu itu suka Ferrari (faktor Schumi lagi berjaya). Kelas 2, anggota bertambah, yang satu ini suka sama Ralf. Dia sih gampang bergabung karena sudah berteman dengan 2 orang sebelumnya sejak SMP. Singkat cerita, tiap hari Senin setelah balapan (pagi malah,sampai klo lagi upacara), klo ada info F1 termasuk klo sy lagi bawa majalah F1 or tabloid olahraga, bahkan tiap hari kita pasti kumpul sambil ngobrol dengan segunung snack. FYI, anak laki di kelas saya waktu itu g’ ada yang suka F1, saya malah curiga satu sekolahan g’ ada yg suka.
Setelah tamat SMA, biarpun masih satu universitas dan si penggemar Montoya yang kemudian jd penggemar Button malah satu jurusan sama saya, kita sudah jarang cerita karena mereka sibuk dg kuliah dan g’ sempat nonton. Saya? Tetap nonton n’ update walaupun kadang ada yang terlewat. Sedih sih ya… tp, mau gimana lagi?
Di tempat kuliah, saya malah ketemu 2 senior yang lagi-lagi cewek dan suka Kimi. Waktu pengkaderan malah bahas F1 klo ktemu dia, senior-seniorku memang smua baik sih. Hehehe… Beberapa tahun kmudian mereka selesai. Saya sendiri dg F1 ini? Tidak… Di klub menembak kampus saya masih ada satu senior yang suka F1 (Ferrari dan Alonso), again n’ again dia cewek juga. So, saya tetap punya teman ‘heboh2’ tentang F1… :D
2 years ago, saya ikut buat rumah di twitterland n’ ktemu lagi sama salah satu senior sejurusan yg suka F1 itu di sana. Dari dialah saya kemudian kenal sama beberapa orang yang juga suka F1. 1 tahun lalu, kita malah twitup sambil bawa majalah F1. Skarang teman di twitterland yg suka F1 malah bertambah.
Ini ceritaku dan ini belum berakhir… Mana ceritamu?XOXO
@gojimal (sekarang jadi fans RBR)
Langganan:
Postingan (Atom)




