Kamis, 07 Mei 2015

Shampoo "Soo Ji" di Let's Eat Season 2


Annyeong haseyo...

Apa kabar kalian hari ini?

Gw sih kadang-kadang kayak orang gila, senyum-senyum sendiri. Hehehe… Kalau kalian tahu alasannya, mungkin ada yang yakin gw gila. Gw tiap ingat Let’s Eat 2 bawaannya emang gitu, waktu Let’s Eat 1 cuma lapar saja. “Apa itu Let’s Eat?” APA??? (ala2 Daeyoung) Kalian tidak tahu Let’s Eat? Cari tahu sana, jangan malas ketemu mbah google! :P

So… apa hubungan tulisan gw kali ini dengan Let’s Eat? Gini ya… Di Let’s Eat 2 itu ada cewek namanya Soo Ji yang diperankan oleh salah satu aktris kesayangan gw, Seo Hyun Jin. Di episode 9 ada adegan dia habis numpang mandi di kamar temannya (Daeyoung), dia sambil mengeringkan rambut keluar dari kamar mandi bikin Daeyoung terpana. Nah, di adegan ini dia bawa botol shampoo yang sudah kosong trus dibuang ke kardus sampah milik Daeyoung. Yang bikin gw penasaran adalah itu shampoo apa sampai Daeyoung harus buka jendela biar harumnya menghilang jadi dia g’ kebayang-bayang adegan SooJi keluar kamar mandi tadi. Awas ya ada yang bilang itu wangi minyak senyongnyong, gw tabok!!!


Seo Hyun Jin, ntar fotonya gw ganti jadi yang lagi keringin rambut.
Karena hidup bakal penasaran terus kalau tidak tahu itu shampoo dari brand mana maka berguling-gulinglah gw bersama mbah google (bayangkan adegan Soo Ji yang kesenangan diajak pacaran sama Sang Woo). Gw juga senang… Hehehe… Bukan karena diajak pacaran sama Sang Woo tapi karena akhirnya tahu brand shampoo yang dipakai Soo Ji. Gw sih kalau diajak pacaran sama Sang Woo sudah g’ cari-cari shampoo dan menulis ini kaliii. :p

Jadi, shampoo dari brand mana? *dugu…dugu…dugu…dugu…dugu… (mendadak jadi Yoo In Na)

Bintang iklannya itu tante Shin Min Ah.
Ini dia varian shampoonya.

Kalau ini sih kayaknya ada 6 karena yang 3 itu condi-nya.

Inilah shampoo yang dipakai Soo Ji.

Di drama ini shampoo-nya dipasangi stiker dan gambarnya g' jelas karena bukan sponsor.

Udah, gitu saja sih…Setelah tahu brand-nya sekarang penasaran pengen coba. Huhuhu…

Salam dari #TeamSangWoo ;)




Review TRESemme Scalp Care Anti Dandruff & Anti Hair Fall


Hellooo…

Akhir-akhir ini kepikiran pengen review produk-produk dunia perjuangan wanita lagi (apa sih bahasa gw?). Selama 6 bulan ini juga gw coba banyak produk mulai dari tester sampai full size jadi sayang buat g’ bagi pengalaman selama pakai. Untuk kali ini mau review perawatan bagian kepala, seumur hidup bagian ini kayaknya yang paling sering gw ganti brand. Yup, gw bakal bahas tentang shampoo dan conditioner. Sebenarnya ini juga lagi berhenti pakai, lagi habis dan masalah rambut yang cocok dengan shampoo ini sudah berhasil diatasi. Gw sudah pakai 3 botol bahkan papaku sekarang ikut pakai. Shampoo dan conditioner apa? Jreng…jreeeng…


TRESemme Scalp Care Anti Dandruff & Anti Hair Fall. Gw takjub banget karena efek halusnya hampir sama dengan Kiehl’s (cuma ini mahal, kapan2lah bikin review singkatnya). Pertama beli sih pengen coba saja, sudah pasrah sih, lumayan ada bonus pouch cantik. Ternyata, rambut gw ketombenya  hilang, jadi halus, agak berkilau, dan ringan. Kering? Iya emang kalau shampoo anti ketombe dampak g’ okenya itu tapi rambut gw dari dulu agak kering tapi g’ tambah kok. Rontoknya juga masih tapi g’ parah. Mungkin bukan hanya faktor shampoo cocok atau tidak tapi yang lain, misalnya makanan, stress, or gw lagi sakit.

Yang paling gw suka dari shampoo ini wanginya menyenangkan dan model botol beserta penutupnya yang g’ nyusahin. Puyeng kan sama alasan gw yang terakhir jadi liat gambar saja ya…


Conditioner-nya, gw g’ bisa jelasin banyak, dampak di rambut biasa saja. Gw juga rada malas pake condi sih… yang pasti g’ memperburuk keadaan dan g’ bikin gw harus bilang “Wow!”. :p

Hampir ketinggalan foto petunjuk pemakaian dan ingredients-nya.




Repurchase: Mungkin kalau shampoo yang saya pakai sekarang g’ ada kemajuan. Atau, ntar dijadikan selingan.



-Sorry, gambarnya g’ kece dan tulisan ini g’ EYD banget-

Rabu, 29 April 2015

Cuap2 Cuci Mata (1)


Hiii…

Sudah lama banget saya tidak menulis di blog ini. Lamaaa bangeeet… Syukurlah masih sadar kalau lama. Kalau tidak sadar ya Aku mah apa atuh?

Kali ini saya cuma mau cerita pengalaman kemarin sore waktu jalan-jalan ke mall. Sebenarnya bukan jalan-jalan tapi ada keperluan dan janji tapi gagal jadi deh waktunya banyak buat keliling di H**o. Setelah  memasukkan semua barang yang memang ada dalam daftar belanjaan, saya pun berkeliling sambil memotret barang-barang yang menarik. Buat apa? Buat dicari reviewnya terus dibeli kalau memang oke dan butuh. Keliling-keliling sampai sejam akhirnya saya memutuskan untuk ke kasir yang antriannya lumayan panjang. Gimana tidak panjang kasir yang ada cuma 3 tapi yang mau bayar banyak. Tidak terasa sih kayaknya seandainya bule di belakang saya lebih ganteng dan tidak sedang bersama pasangannya (orang Indonesia). Jangan tanya mereka suda menikah atau gimana ya… Mana saya tahu kakak! Lagian saya sibuk memperhatikan belanjaan wanita muda berpakaian dinas (jangan tanya dia sudah nikah ya!), belanjaannya banyak benar tapi setengahnya bisa saya beli dengan murah di pasar atau di tukang sayur yang tiap hari singgah di depan rumah. Duit dia sih tapi sayang banget berlembar-lembar seratus ribuan hanya untuk sawi, kangkung, bayam, pisang. Saya maklum sih kalau seandainya dia ekspatriat, mau berpikiran positif yang masuk akal cuma “mungkin dia tajir terpelintir”. Satu yang saya salut dari wanita ini, dia bayarnya tunai booo’… Adakan yang cuma belanja seiprit langsung keluarin kartu kredit, 3 hari lalu pas saya mau bayar di kasir juga ada yang cuma beli 2 botol minuman ringan pengen ngegesek-gesek juga. Minimum pembeliannya g’ sampai kaliii….

Nah, tibalah giliran saya membayar dan seperti biasa bawa kantong belanjaan sendiri dan sebelum meninggalkan kasir periksa bukti pembayaran. Jreng…jreng… dasar saya hafal banget harga olive oil protes dong kenapa harganya beda, beda hampir Rp 10.000,-. Singkat cerita setelah menunggu cukup lama, sampai si bule dan atrian-antrian dibelakangnya pulang, duit saya dikembalikan. Maaf saja, bagi saya, harga yang tertera dengan yang dibayar harus sama. #guemahemanggitu

Intinya kenapa yang ngantri di belakang saya bukan Hamish Daud, Johannes Huebl, or siapalah yang bikin mata dan hati bahagia? ;p

Yang tidak tahu Johannes Huebl, tanya sama wanita di cover  ini.



Selasa, 30 Desember 2014

Drama Korea and Me 2014

Annyeong haseyo!

Seperti biasa, akhir tahun jadi mau nulis drama terbaik versi gw. Tahun ini drama yang gw nonton sampai habis g' banyak, lebih banyak layu di tengah jalan. Entah tahun ini dramanya memang biasa-biasa saja atau gw yang lagi kurang semangat nontonnya. Langsung saja ya drama apa saja yang ada di daftar gw.

1. Hotel King (32 ep tapi gw pengen minta tambah lagi)
2. Misaeng (Walaupun sebelum tayang gw tahu ide ceritanya bagus tapi g' niat nonton. Cuma akhirnya penasaran gara-gara teman gw bilang Kang SoRa di ep 1 bahasa Inggrisnya oke)
3. Flower Grandpa Investigative Team (G' percaya klo drama ini masuk? Drama ini sukses bikin ngakak tiap ep, penasaran, kadang menangis juga)

Tahun ini ada beberapa drama re-make juga, ada yang aslinya dari Taiwan, J-drama or manga. Susahnya itu klo kamu sudah nonton versi aslinya, mau g' mau bakal ngebandingin. Yang main dan bikin bakal dikritik abis klo dramanya jelek, terutama sih yang versi aslinya itu manga ada versi J-drama-nya pula karena rata-rata bagus dan punya banyak penggemar. Dari versi ini sih yang gw ikuti cuma Liar Game dan Fated to Love You , versi aslinya memang sudah gw nonton juga sih, puaslah.

Drama keluarga apa yang gw ikuti tahun ini? Paling gw nikmati itu My Spring Days, sabar dan tenang banget gw ikutin drama ini, kayak ditiup-tiup angin. -.- Sekarang juga masih nonton What Happens to My Family, suka dan pengen saja.

Film Korea terbaik tahun ini yang sudah gw nonton itu Miss Granny. 

Melenceng dari judul, gw pengen bilang klo tahun ini akhirnya gw balik nonton drama mainland gara-gara Boss and Me. Gara-gara drama ini juga gw resmi jadi penggemar karyanya Gu Man.

Sampai di sini saja tulisan gw kali ini, semoga tahun depan lebih baik dan banyak drama serta film yang bagus. :)


Selasa, 28 Oktober 2014

Review The Silkworm




Beberapa bulan lalu rasa penasaran saya digelitik 2 bab The Silkworm versi Inggris. Apa yang didapatkan setelah hanya membaca secuil bagian dari 500-an halaman sebuah novel selain penantian dengan penuh ketidaksabaran. Namun, saat tulisan ini muncul berarti rasa penasaran saya telah terpuaskan. Robert Galbraith alias J.K. Rowling kembali lagi dengan aksi Cormoran Strike bersama asistennya yang menarik, Robin Ellacott. Apakah Robin putus dengan pacarnya dan berpaling pada Cormoran? Jadi, kasus apa yang mereka hadapi kali ini?

Setelah kasus Lula Landry terpecahkan, bisnis detektif partikiler Cormoran Strike berubah 180 derajat. Publitas kasus itu ikut berimbas menjadikannya detektif paling tersohor di metropolis. Kasus-kasus berdatangan namun dia lebih memilih klien yang berpotensi mendatangkan keuntungan besar meski kasusnya hanya masalah ringan seperti klien yang ingin pasangannya diselidiki karena diduga berselingkuh, klien yang butuh bukti pendukung dalam perceraiannya, dan kasus lain yang hanya butuh waktu banyak bukan keahlian lebih. Dia sudah bisa menyicil utang-utangnya, menyewa flat di atas kantornya, dan tentunya bisa membayar gaji Robin meski masih di bawah gaji pekerjaan-pekerjaan yang telah ditolaknya demi kesetiaannya pada Cormoran.

Kali ini, berbeda dari biasanya, Cormoran menerima klien yang tak terlihat akan menambah pundi-pundi keuangannya. Seorang wanita (Leonora Quine) yang ingin Cormoran menemukan suaminya (Oliver Quine) dan membawanya pulang. Pekerjaan yang cukup mudah? Suaminya adalah seorang penulis, pergi dari rumah membawa naskah novel yang telah ditulisnya. Awalnya sang istri menduga suaminya hanya ke retret yang pernah dia dengar disarankan oleh seorang penerbit (Christian Fisher) jadi Cormoran hanya perlu menanyakannya dan menjemput suaminya. Namun suaminya tidak pernah ke tempat yang dimaksud justru beberapa hari kemudian Cormoran temukan meninggal di rumah milik Oliver bersama dengan mantan temannya yang juga penulis (Michael Fancourt). Oliver di mutilasi dengan kejam dan usus menghilang, tak ada bukti apapun, seperti sidik jari, yang merujuk pada pelaku.

Kasus ini akhirnya melibatkan kepolisian dan ditangani oleh teman Cormoran yang ia selamatkan saat peristiwa bom yang menimpanya di Afganistan. Kepolisian memiliki bukti yang mengarah pada Leonora sebagai pelakunya. Tentu saja Cormoran tidak percaya begitu saja bukan hanya karena bukti yang dimiliki kepolisian masih membuatnya ragu tapi karena rasa kasihannya pada putri Leonora yang memiliki keterbelakangan. Dalam penyelidikannya Cormoran kemudian tahu bahwa novel yang ditulis Oliver mengumbar keburukan orang-orang di sekelilingnya. Bombyx Mori yang merupakan bahasa Latin dari ulat sutera adalah judul dari novel yang tentu saja mungkin akan berpeluang mengundang keinginan dari siapa saja dianalogikan dengan tokoh di dalamnya  untuk membunuh si penulis. Istri Oliver, agennya (Elizabeth Tassel), editornya (Jerry Waldegrave), CEO publisher-nya (Daniel Chard), selingkuhan (Kathryn) dan temannya (Pippa), serta penulis lainnya (Michael Fancourt). Siapa di antara mereka pembunuh sebenarnya? Apakah kali ini Cormoran Strike akan mengalahkan kepolisian lagi? Sedikit bocoran yang hampir terlupakan, adik Cormoran ikut serta membantu penyelidikan dan terpecahkannya kasus ini.

Pada buku pertama tebakan saya justru salah tapi kali ini tidak. Bukan berarti kasus kali ini mudah dan lebih biasa dari sebelumnya, justru rasanya seperti digiring kemana-mana. Meski telah menetapkan siapa yang dijadikan tersangka motifnya tetap tidak bisa tertebak dan bagaimana dia melakukannya. Saat Cormoran ‘menggali’ tiap tersangka justru kecurigaan pada setiap orang semakin muncul, penyelesaiannya benar-benar di akhir, hampir tanpa celah. Robert Galbraith sangat runut dan mendetail membuat sisi Cormoran yang tradisional dalam menyelesaikan kasus sangat terasa menonjol.

The Silkworm di sisi lain membuat saya merasa dua kali memasuki dunia buku karena juga harus mengerti apa yang ada dalam Bombyx Mori. Buku ini juga menunjukkan bagian dari dunia menulis dan penerbitan, bukan hanya membeli buku di toko. Sangat menikmati membaca buku ini walau terjemahan tapi memuaskan  jadi tidak perlu khawatir membeli karena takut melenceng dari versi aslinya. The Silkworm merupakan salah satu buku terbaik tahun ini dan mungkin banyak yang tidak sabar menunggu buku berikutnya. Bagi yang penasaran dengan aksi Cormoran dan Robin silahkan membacanya sendiri dan bagi yang masih penasaran juga dengan hubungan mereka mari kita berimajinasi setidaknya setahun lagi. :p

Senin, 27 Oktober 2014

Review Bodycology Cucumber Melon Shower Gel and Bubble Bath

Hi.....!!! 

Lama banget gw g' ngeblog, ini saja nulis buat mancing-mancing biar nulis review buku yang g' jadi-jadi dari 2 minggu lalu. :( Sekalian mau curcol juga secara lagi stres liat muka sendiri. Klo dipikir dan dilihat-lihat sih gw kurang bersyukur banget, hancurnya muka gw belum ada apa-apanya dibanding orang-orang jerawatan parah di luar sana. Tapi, namanya cewek ya gimana dong... Selain komedo, warna kulit g' rata, fleck hitam, kulit kering, garis-garis halus juga mulai muncul. Ini sih banyak ya... Gw semakin terlihat kusam dan tua pdhal masih 20-an. :(

Sekarang gw sudah sadar, dari dulu sih tapi cuek bebek, jadi mau berburu alat perang yang cocok. Ngincar brand Innisfree tapi harus bertahap karena mehong dan gw masih pengen beli 3 buku tahun ini, belum lagi mata gw yang masih gatal liat tas di Zorra shop. Hahaha... Hitung-hitungan gw emang masih kencang walaupun dulu pernah kebablasan beli shampo sama conditioner Kiehl's (kapan-kapan gw review soalnya ok banget). Kali ini biar g' kosong tak bermutu ni postingan gw sekalian review body wash kesayangan, Bodycology Cucumber Melon Shower Gel and Bubble Bath.

Nama Bodycology Cucumber Melon Shower Gel and Bubble Bath ini sih dipakai di kemasan botol lama, yang baru pakai Bodycology Fresh Cucumber Melon Foaming Body Wash. Gw lebih suka kemasan lama yang gemuk, lebih pendek dan tutupnya lebih aman. Jelasnya liat di gambar saja ya... :) *dasar wanita pemalas*






Isinya sih sama saja 473 mL (16 FL OZ), g' kental tapi g' encer banget juga, wanginya segar, yang paling gw suka busanya g' cepat mati (ngertilah maksud gw) wajar sih karena buat bubble bath juga kali. Setelah dibilas kulit terasa lembab dan halus tapi jangan lupa setelah mandi tetap pakai body lotion. Gw pake body butter karena body lotion rasanya kurang nampol di kulit gw (entah kulitku dari apa). Harga hampir seratus ribu tapi pas kemarin mau beli botol ke 3 (gw pakai produk ini sudah hampir 2 tahun, sempat berhenti beberapa bulan) lg diskon tinggal 1 pula di Guardian, klo di Hero lagi habis yang wangi ini. Sempat mikir ini barangnya jangan-jangan sudah g' bagus tapi karena gw tahu itu kemasan yang lebih baru dari yang gw punya sebelumnya ya beli saja. Lagi pula pakai body wash yang biasa kulitku kadang bermasalah. Kandungannya, lagi-lagi gw malas menulis ulang jadi liat di foto saja (maaf). Gw coba cari sih kekurangan produk ini tapi g' nemu-nemu (gw konsumen yg kurang pintar sih). -.-v






Minggu, 08 Juni 2014

Get It Beauty - Blind Test ep 2


Hwaaa…. Lama banget gue g’ menulis apapun di blog ini. *sebelum lanjut nyapu2 dan bersihin sarang laba-laba dulu*
Berhubung malam ini gue galau karena sudah memutuskan untuk g’ mengambil tawaran tinggal dan kursus di Korea selama 3 bulan maka postingan kali ini bakal berbau-bau Korea.
Gue suka banget liat kulit orang-orang Korea yg kelihatannya kinclong kayak panci baru digosok. *eh… Menurut gue, mereka terlihat cantik bukan hanya karena operasi plastik tapi didukung dengan perawatan dan riasan yang natural dan konsumsi makanan sehat. Nah, gara-gara ini gue jadi nonton Get It Beauty 2014 yang host-nya Yoo In Na. Banyak banget pengetahuan baru yang gue dapat dari acara ini, mulai dari tips kecantikan, cara make up, dan yang paling gue suka blind test. Di blind test ini bakal ada 1 produk yang di-test oleh peserta yang hadir tapi brand-nya apa kita g’ tahu karena ditutupi. Gue paling hobby nebak-nebak brand-nya apa dari kemasannya. Bagi yang nonton acara ini tapi masih ada brand dari produk yang dites tidak kalian tahu gue bakal berbagi seiklasnya, eh…semampu gue maksudnya.
Gue bakal langsung ke ep 2 karena di ep 1 memang g’ ada blind test. Di ep 2 ini produknya adalah eyeshadow dari 5 brand top dan hasilnya….*dugu…dugu…dugu…dugu…dugu…
1.   NARS yang terdiri dari 15 warna yang natural. Harganya sekitar 125.000 Won dengan berat 15 gram.
2.   ESTEE LAUDER spring set yang terdiri dari 5 warna, suka banget warna pink n’ beige-nya. Harga sekitar 65.000 Won dengan berat 7,6 gram.
3.   MAC yang terdiri dari 4 warna. Ini jagoan dan incaran gue sebenarnya, soalnya gue cuma pake warna cokelat, beige dan abu-abu menuju hitam. Ngapain beli banyak warna kalau yang dipakai warna itu-itu saja, prinsip gue sih gitu. Harga 66.000 Won dengan berat 2 gram.
4.   BOBBI BROWN, terdiri dari 8 warna. Ini jagoannya Yoo In Na yang menurutnya sangat cocok untuk digunakan sehari-hari. Menurut gue sih warnanya hampir mirip beda ditingkat kepekatan saja. Harga 78.000 Won dengan berat 8,5 gram.
5.   CHANEL, yup kalian tidak salah baca. Jadi biarpun brand itu terkenal banget belum tentu produknya semua terdepan (kayak iklan motor). Terdiri dari 4 warna, hitam, beige, grey, and brown. Too expensive dengan berat 2 gram tapi dibanderol dengan harga 81.000 Won.
Segitu saja dulu ya…Klo ada kesalahan mohon ditegur dan untuk gambarnya nanti ditambahkan. :)