Selasa, 28 Oktober 2014

Review The Silkworm




Beberapa bulan lalu rasa penasaran saya digelitik 2 bab The Silkworm versi Inggris. Apa yang didapatkan setelah hanya membaca secuil bagian dari 500-an halaman sebuah novel selain penantian dengan penuh ketidaksabaran. Namun, saat tulisan ini muncul berarti rasa penasaran saya telah terpuaskan. Robert Galbraith alias J.K. Rowling kembali lagi dengan aksi Cormoran Strike bersama asistennya yang menarik, Robin Ellacott. Apakah Robin putus dengan pacarnya dan berpaling pada Cormoran? Jadi, kasus apa yang mereka hadapi kali ini?

Setelah kasus Lula Landry terpecahkan, bisnis detektif partikiler Cormoran Strike berubah 180 derajat. Publitas kasus itu ikut berimbas menjadikannya detektif paling tersohor di metropolis. Kasus-kasus berdatangan namun dia lebih memilih klien yang berpotensi mendatangkan keuntungan besar meski kasusnya hanya masalah ringan seperti klien yang ingin pasangannya diselidiki karena diduga berselingkuh, klien yang butuh bukti pendukung dalam perceraiannya, dan kasus lain yang hanya butuh waktu banyak bukan keahlian lebih. Dia sudah bisa menyicil utang-utangnya, menyewa flat di atas kantornya, dan tentunya bisa membayar gaji Robin meski masih di bawah gaji pekerjaan-pekerjaan yang telah ditolaknya demi kesetiaannya pada Cormoran.

Kali ini, berbeda dari biasanya, Cormoran menerima klien yang tak terlihat akan menambah pundi-pundi keuangannya. Seorang wanita (Leonora Quine) yang ingin Cormoran menemukan suaminya (Oliver Quine) dan membawanya pulang. Pekerjaan yang cukup mudah? Suaminya adalah seorang penulis, pergi dari rumah membawa naskah novel yang telah ditulisnya. Awalnya sang istri menduga suaminya hanya ke retret yang pernah dia dengar disarankan oleh seorang penerbit (Christian Fisher) jadi Cormoran hanya perlu menanyakannya dan menjemput suaminya. Namun suaminya tidak pernah ke tempat yang dimaksud justru beberapa hari kemudian Cormoran temukan meninggal di rumah milik Oliver bersama dengan mantan temannya yang juga penulis (Michael Fancourt). Oliver di mutilasi dengan kejam dan usus menghilang, tak ada bukti apapun, seperti sidik jari, yang merujuk pada pelaku.

Kasus ini akhirnya melibatkan kepolisian dan ditangani oleh teman Cormoran yang ia selamatkan saat peristiwa bom yang menimpanya di Afganistan. Kepolisian memiliki bukti yang mengarah pada Leonora sebagai pelakunya. Tentu saja Cormoran tidak percaya begitu saja bukan hanya karena bukti yang dimiliki kepolisian masih membuatnya ragu tapi karena rasa kasihannya pada putri Leonora yang memiliki keterbelakangan. Dalam penyelidikannya Cormoran kemudian tahu bahwa novel yang ditulis Oliver mengumbar keburukan orang-orang di sekelilingnya. Bombyx Mori yang merupakan bahasa Latin dari ulat sutera adalah judul dari novel yang tentu saja mungkin akan berpeluang mengundang keinginan dari siapa saja dianalogikan dengan tokoh di dalamnya  untuk membunuh si penulis. Istri Oliver, agennya (Elizabeth Tassel), editornya (Jerry Waldegrave), CEO publisher-nya (Daniel Chard), selingkuhan (Kathryn) dan temannya (Pippa), serta penulis lainnya (Michael Fancourt). Siapa di antara mereka pembunuh sebenarnya? Apakah kali ini Cormoran Strike akan mengalahkan kepolisian lagi? Sedikit bocoran yang hampir terlupakan, adik Cormoran ikut serta membantu penyelidikan dan terpecahkannya kasus ini.

Pada buku pertama tebakan saya justru salah tapi kali ini tidak. Bukan berarti kasus kali ini mudah dan lebih biasa dari sebelumnya, justru rasanya seperti digiring kemana-mana. Meski telah menetapkan siapa yang dijadikan tersangka motifnya tetap tidak bisa tertebak dan bagaimana dia melakukannya. Saat Cormoran ‘menggali’ tiap tersangka justru kecurigaan pada setiap orang semakin muncul, penyelesaiannya benar-benar di akhir, hampir tanpa celah. Robert Galbraith sangat runut dan mendetail membuat sisi Cormoran yang tradisional dalam menyelesaikan kasus sangat terasa menonjol.

The Silkworm di sisi lain membuat saya merasa dua kali memasuki dunia buku karena juga harus mengerti apa yang ada dalam Bombyx Mori. Buku ini juga menunjukkan bagian dari dunia menulis dan penerbitan, bukan hanya membeli buku di toko. Sangat menikmati membaca buku ini walau terjemahan tapi memuaskan  jadi tidak perlu khawatir membeli karena takut melenceng dari versi aslinya. The Silkworm merupakan salah satu buku terbaik tahun ini dan mungkin banyak yang tidak sabar menunggu buku berikutnya. Bagi yang penasaran dengan aksi Cormoran dan Robin silahkan membacanya sendiri dan bagi yang masih penasaran juga dengan hubungan mereka mari kita berimajinasi setidaknya setahun lagi. :p

Senin, 27 Oktober 2014

Review Bodycology Cucumber Melon Shower Gel and Bubble Bath

Hi.....!!! 

Lama banget gw g' ngeblog, ini saja nulis buat mancing-mancing biar nulis review buku yang g' jadi-jadi dari 2 minggu lalu. :( Sekalian mau curcol juga secara lagi stres liat muka sendiri. Klo dipikir dan dilihat-lihat sih gw kurang bersyukur banget, hancurnya muka gw belum ada apa-apanya dibanding orang-orang jerawatan parah di luar sana. Tapi, namanya cewek ya gimana dong... Selain komedo, warna kulit g' rata, fleck hitam, kulit kering, garis-garis halus juga mulai muncul. Ini sih banyak ya... Gw semakin terlihat kusam dan tua pdhal masih 20-an. :(

Sekarang gw sudah sadar, dari dulu sih tapi cuek bebek, jadi mau berburu alat perang yang cocok. Ngincar brand Innisfree tapi harus bertahap karena mehong dan gw masih pengen beli 3 buku tahun ini, belum lagi mata gw yang masih gatal liat tas di Zorra shop. Hahaha... Hitung-hitungan gw emang masih kencang walaupun dulu pernah kebablasan beli shampo sama conditioner Kiehl's (kapan-kapan gw review soalnya ok banget). Kali ini biar g' kosong tak bermutu ni postingan gw sekalian review body wash kesayangan, Bodycology Cucumber Melon Shower Gel and Bubble Bath.

Nama Bodycology Cucumber Melon Shower Gel and Bubble Bath ini sih dipakai di kemasan botol lama, yang baru pakai Bodycology Fresh Cucumber Melon Foaming Body Wash. Gw lebih suka kemasan lama yang gemuk, lebih pendek dan tutupnya lebih aman. Jelasnya liat di gambar saja ya... :) *dasar wanita pemalas*






Isinya sih sama saja 473 mL (16 FL OZ), g' kental tapi g' encer banget juga, wanginya segar, yang paling gw suka busanya g' cepat mati (ngertilah maksud gw) wajar sih karena buat bubble bath juga kali. Setelah dibilas kulit terasa lembab dan halus tapi jangan lupa setelah mandi tetap pakai body lotion. Gw pake body butter karena body lotion rasanya kurang nampol di kulit gw (entah kulitku dari apa). Harga hampir seratus ribu tapi pas kemarin mau beli botol ke 3 (gw pakai produk ini sudah hampir 2 tahun, sempat berhenti beberapa bulan) lg diskon tinggal 1 pula di Guardian, klo di Hero lagi habis yang wangi ini. Sempat mikir ini barangnya jangan-jangan sudah g' bagus tapi karena gw tahu itu kemasan yang lebih baru dari yang gw punya sebelumnya ya beli saja. Lagi pula pakai body wash yang biasa kulitku kadang bermasalah. Kandungannya, lagi-lagi gw malas menulis ulang jadi liat di foto saja (maaf). Gw coba cari sih kekurangan produk ini tapi g' nemu-nemu (gw konsumen yg kurang pintar sih). -.-v






Minggu, 08 Juni 2014

Get It Beauty - Blind Test ep 2


Hwaaa…. Lama banget gue g’ menulis apapun di blog ini. *sebelum lanjut nyapu2 dan bersihin sarang laba-laba dulu*
Berhubung malam ini gue galau karena sudah memutuskan untuk g’ mengambil tawaran tinggal dan kursus di Korea selama 3 bulan maka postingan kali ini bakal berbau-bau Korea.
Gue suka banget liat kulit orang-orang Korea yg kelihatannya kinclong kayak panci baru digosok. *eh… Menurut gue, mereka terlihat cantik bukan hanya karena operasi plastik tapi didukung dengan perawatan dan riasan yang natural dan konsumsi makanan sehat. Nah, gara-gara ini gue jadi nonton Get It Beauty 2014 yang host-nya Yoo In Na. Banyak banget pengetahuan baru yang gue dapat dari acara ini, mulai dari tips kecantikan, cara make up, dan yang paling gue suka blind test. Di blind test ini bakal ada 1 produk yang di-test oleh peserta yang hadir tapi brand-nya apa kita g’ tahu karena ditutupi. Gue paling hobby nebak-nebak brand-nya apa dari kemasannya. Bagi yang nonton acara ini tapi masih ada brand dari produk yang dites tidak kalian tahu gue bakal berbagi seiklasnya, eh…semampu gue maksudnya.
Gue bakal langsung ke ep 2 karena di ep 1 memang g’ ada blind test. Di ep 2 ini produknya adalah eyeshadow dari 5 brand top dan hasilnya….*dugu…dugu…dugu…dugu…dugu…
1.   NARS yang terdiri dari 15 warna yang natural. Harganya sekitar 125.000 Won dengan berat 15 gram.
2.   ESTEE LAUDER spring set yang terdiri dari 5 warna, suka banget warna pink n’ beige-nya. Harga sekitar 65.000 Won dengan berat 7,6 gram.
3.   MAC yang terdiri dari 4 warna. Ini jagoan dan incaran gue sebenarnya, soalnya gue cuma pake warna cokelat, beige dan abu-abu menuju hitam. Ngapain beli banyak warna kalau yang dipakai warna itu-itu saja, prinsip gue sih gitu. Harga 66.000 Won dengan berat 2 gram.
4.   BOBBI BROWN, terdiri dari 8 warna. Ini jagoannya Yoo In Na yang menurutnya sangat cocok untuk digunakan sehari-hari. Menurut gue sih warnanya hampir mirip beda ditingkat kepekatan saja. Harga 78.000 Won dengan berat 8,5 gram.
5.   CHANEL, yup kalian tidak salah baca. Jadi biarpun brand itu terkenal banget belum tentu produknya semua terdepan (kayak iklan motor). Terdiri dari 4 warna, hitam, beige, grey, and brown. Too expensive dengan berat 2 gram tapi dibanderol dengan harga 81.000 Won.
Segitu saja dulu ya…Klo ada kesalahan mohon ditegur dan untuk gambarnya nanti ditambahkan. :)

Senin, 30 Desember 2013

Drama Korea and Me 2013

Di drama ini akting Yoona kelihatan banget lebih berkembang, saya malah suka banget dia di sini

Berhubung kita sudah berada di penghujung tahun 2013, saya ingin bercerita sedikit. Tahun ini bukan tahun yang terlalu baik buat saya, terutama karena sering sakit tapi sakit itu juga nikmat lho. Allah masih mengingat saya, masih mau menegur, jalani saja dengan tabah, berdoa, dan berusaha untuk sembuh. Alhamdulillah tidak terlalu parah. Cerita ini bukan tentang sakit atau kisah-kisah pribadi  lainnya karena saya bukan tipe orang yang menceritakan hal-hal seperti itu apa lagi secara gamblang. Kali ini saya cuma mau membahas drama Korea yang menurut saya bagus. Hehehe...

Ada beberapa drama yang coba saya tonton tahun ini tapi sebagian besar berakhir di episode 1-4 alias episode coba-coba. Nah, inilah drama Korea terbaik versi saya tahun ini:

1. Nine
2. Secret
3. The Master's Sun

Cukup 1-3 saja ya... Pengen masukin Good Doctor sama The Suspicious Housekeeper tapi ya gitu deh... My Daughter Seo-Young juga bagus meski 50 episode tapi rasanya semua pas, g' ada adegan yang pengen dibuang supaya bisa lebih cepat selesai. Saya g' masukin karena ini drama dari 2012 tapi berakhir 2013, yang penting tahu saja kalau drama ini bagus juga.

Ngomong-ngomong soal drama yang mulai kemudian berakhir di tahun berbeda, saya sekarang sedang mengikuti drama Let's Eat yang setiap nonton bawaannya pengen makan, Prime Minister and I yang awalnya pengen g' nonton tapi demi akting LBS ahjussi akhirnya nonton juga, dan My Love From Another Star yang saya nonton karena lagi pengen saja.

*nanti kalau ada waktu tulisan ini saya bakal perbaiki kok :)


Review The Cuckoo’s Calling



Memulai sebuah tulisan bagi saya selalu susah, bisa lama padahal cuma memikirkan kalimat pertama. Nah, kalian baru saja membacanya, kalimat yang saya bilang susah itu. Abaikan saja ketidakteraturan saya dalam menulis karena review buku kali ini mungkin lebih tidak akan objektif dari sebelumnya. Anggap saja ini hanya cuap-cuap belaka dari orang yang akhir-akhir ini susah lega setelah membaca buku. Jadi, buku apa yang baru saya baca?


Yup, The Cuckoo’s Calling by Robert Galbraith. Tahu siapa dia? Kalau ada yang jawab tidak tahu padahal tiap hari dia salto-salto di media sosial, saya akan mempertanyakan apa dia membaca berita atau pernah menonton tv (boleh tersinggung :p).  Robert Galbraith bukanlah nama yang terkenal  sampai beberapa bulan lalu setelah sebuah rahasia terkuak. Nama itu adalah nama alias dari penulis tekenal dan kaya raya karena tulisan-tulisannya, J.K. Rowling. Kenapa dia memakai nama alias! Tulisannya kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya, nampaknya dia ingin melihat bagaimana reaksi “pasar” terhadap karya terbarunya. Sebelum rahasia siapa sebenarnya di balik nama itu, buku ini sudah mendapat tanggapan positif dari para kritikus yang menurut saya lebih sering kejam dan menyebalkan (lah saya juga kadang gitu). Namun, hal itu tidak terlalu membantu penjualan sampai media memberitakan bahwa J.K. Rowling penulisnya. Kenapa Robert Galbraith! Rowling suka nama Robert dan selalu terngiang-ngiang nama keluarga Galbraith, jadi deh. Menurut yang pernah saya baca, nama ini juga bisa diartikan ‘famous stranger’, cocoklah.

Sekarang, saya bahas isinya tapi dikit saja. Why! Ini novel kriminal yang jika terlalu banyak diceritakan orang lain justru menurut saya jadi tidak asyik. Kasus dalam novel ini bermula pada suatu malam yang dingin bersalju di London saat seorang supermodel jatuh dari ketinggian balkon flatnya. Oleh polisi, kasus ini hanya kasus bunuh diri, sang kakak justru ragu dan ia pun akhirnya menyewa detektif partikelir untuk kembali menyelidiki. Cormoran Strike awalnya agak ragu untuk menerima kasus ini, hidupnya kacau, namun tak dipungkiri keuangannya sedang dalam masalah. Saat menyelidiki kasus ini mau tak mau kehidupan pribadi dan masa lalunya pun ikut tersentuh, nyawanya ikut terancam. Yang saya jabarkan ini mirip sinopsis dari penerbit ya? Memang sengaja. :P

Setelah Harry Potter ini karya mba’ Jo (sok akrab) yang saya baca. Entah kenapa belum tertarik baca Casual Vacancy tapi terus terang sekarang penasaran bagaimana gaya bercerita mba’ Jo di novel itu. Di novel ini sendiri Rowling berhasil menyeret saya ikut serta dalam penyelidikan yang dilakukan oleh Cormoran Strike, benar-benar memutar otak. Ceritanya tersusun sangat apik, mengalir, sulit untuk dilepaskan jika sudah terlanjur membacanya. Sangat berbeda jauh dari Harry Potter (ya iyalah), The Cuckoo's Calling membuat saya melihat sisi lain dan kelihaian seorang Robert Galbraith alias J.K. Rowling. Selesai membaca buku ini terus terang saya sangat puas, lega sampai senyum-senyum sendiri. Beberapa orang mungkin akan bilang kasus dan motif seperti ini sudah biasa, saya juga pernah baca kasus seperi ini tapi yang perlu diingat jalan cerita, cara penulis meramu, eksekusi, dalam sebuah kasus selalu ada hal yang berbeda. Saya sangat menikmati karya berbeda dari Robert Gilbraith dan akan terus menanti karyanya. Menurut kabar akan ada sekuel dari cerita ini tahun depan, tidak sabar rasanya, semoga Robin putus dan jadian sama Cormoran (jahat).

Sabtu, 07 Desember 2013

Review Unfriend You



Demi apa hadiahnya ditambahkan kertas bergaris itu? :p *pura-pura g' ngerti*

Siapa sih yang punya hobi membaca g' senang mendapat hadiah buku? Nah, saya juga begitu. Cukup lama juga g' mendapatkan hadiah buku, ya g' heran karena saya memang jarang ikut giveaway. Kadang g' ikut giveaway itu cuma gara-gara ribet padahal g' ribet-ribet amat. Tapi buku yang mau saya bahas kali ini justru hasil giveaway. Jadi, waktu itu sebelum tidur saya 'guling-guling' di beberapa blog termasuk blognya mba' @iiphche yg ternyata lagi ngadain giveaway buku Unfriend You. Berhubung lagi merasa g' ribet ikut deh, cuma ngasih pendapat saja menurut yang saya pahami dan pernah alami, mencantumkan alamat email dan akun twitter beres deh. Waktu itu, g' berharap menang apalagi yang ikutan banyak sedangkan bukunya cuma satu. Tapi namanya rezeki ya dapat juga.

Sebenarnya kalau bukunya g' menarik saya mungkin g' ikutan juga sih... Buku Unfriend You ini temanya tentang bullying tapi g' dalam bentuk kekerasan fisik namun lebih ke mental meski demikian bagi saya sama berbahayanya. Baca buku ini bikin lebih tahu bahwa pelaku bullying pasti punya latar melakukan itu cuma kadang targetnya belum tentu ada salah sama dia, bisa saja cuma dipilih secara random. Cerita ini mengalir banget, rasanya kita ada di situ sebagai penonton yang pengen melakukan sesuatu tapi g' bisa. Sebelum bahas lebih jauh saya ceritakan sedikit tentang tokoh dalam buku ini.

Katrissa, dulunya hanya itik di Egan (Eglantine High School) tapi kemudian berubah jadi 'angsa'. Papanya sering pindah tugas maka dia pun harus berganti-ganti sekolah. Ditambah dengan suatu kejadian di masa lalunya, hal ini membuatnya sulit beradaptasi dan memiliki teman. Tapi mengapa dia tiba-tiba bisa masuk clique Aura dan Milani yang populer itu?

Priska, siswa baru yang awal kehadirannya telah membuat Katrissa tak nyaman apa lagi diam-diam dia nampaknya menyukai pacar Aura. Meski Priska dengan mudah masuk dalam clique mereka tapi dari sini pula masalah dimulai. Aura yang merasa pacarnya didekati memutuskan untuk memberinya pelajaran. Parahnya, hampir semua murid Egan pun ikut-ikutan hingga Priska tak ke sekolah lagi dan mencoba untuk bunuh diri.

Langit, cowok yang bagi 'angsa' seperti Aura tidak pantas untuk mendekat apa lagi jadi pacar. Langit ingin Katrissa membujuk Aura untuk menghentikan apa yang dilakukan terhadap Priska. Awalnya Katrissa hanya menutup mata meski tahu bahwa Aura sudah melewati batas. Saat dia mulai peduli justru serangan Aura berbalik padanya. Bagaimana nasib Katrissa? Kenapa Langit mau repot-repot ikut campur?

Setiap tokoh punya latar hingga memiliki karakter seperti dalam buku ini. Aura yang hampir cerita ini selesai baru diketahui kenapa dia nge-bully. Katrissa yang seakan menutup mata. Milani yang menurut saya seperti dayang-dayang meski stratanya tinggi. Priska yang tetap ingin masuk clique Aura meski cara yang harus dilalui salah. Langit yang ikut campur. Setiap tokoh dan konfliknya pas, tidak berlebihan menurut saya. Membaca buku ini saya merasa diajak untuk lebih menyelami psikologi korban dan pelaku bullying.

Meski menyenangkan membaca buku tapi bukan berarti saya tidak memperhatikan beberapa kesalahan yang cukup menggelitik. Contohnya, Aura yang memanggil Katrissa 'Kat', kemudian 'Rissa', lalu, 'Ris', hanya dalam jeda 2 lembar. Satu orang menggunakan 3 nama panggilan untuk 1 orang? Satu lagi, jarak rumah Aura dengan Katrissa di akhir kenapa jadi dekat dan bisa ditepuh dengan beberapa menit bersepeda padahal di awal jauh dan butuh memutar. Apa ada jalan pintas yang tidak bisa dilalui mobil?

Buku ini harus dibaca guru, remaja, orang tua, bahkan semua kalangan. Why? Karena sadar maupun tidak, langsung maupun tidak langsung bisa saja kita ikut sebagai penyebab atau kena dampak dari bullying ini.

Thank you mba' @iiphche, Dyah Rinni dan, Gagas Media!

*kalau mau baca blog giveaway-nya waktu itu di sini ya….

Selasa, 26 November 2013

Review The Miracle of Grace (Keajaiban Grace)





Buku ini sebenarnya telah beberapa minggu saya beli tapi baru sempat untuk membacanya, saking penasarannya saya mencuri-curi waktu. Pertama kali jatuh cinta pada karya Kate Karrigan saat membaca Recipe of A Perfect Marriage. Sejak itu saya terus mencari-cari dan menunggu karyanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Tapi, baru tahun ini hal itu terwujud setelah penantian yang panjang.

Seperti sampul buku pertama Kate yang saya baca, sampul buku ini pun menarik. Terasa hangat dan membuat ingin pulang ke rumah dan bertemu ibu. Suasana rumahan pada sampulnya memang tidak jauh dari tema tulisan Kate, keluarga. Jika di buku pertama bertaburan bahan masakan, kali ini ada pot, bunga, perlengkapan berkebun. Bagi saya, ini mengambarkan kehidupan seorang ibu yang di hari tuanya hidup mandiri, mengerjakan rutinitasnya termasuk berkebun. Tapi apakah tokoh ibu dalam buku ini sama dengan yang saya pikirkan?

Grace adalah pengajar di sekolah putri St. Anne. Dia secara sukarela menjadi konselor bagi 400 muridnya yang masih remaja. Usianya sekitar 40-an dan berpisah dengan suaminya selama 8 tahun. Grace terkadang merasa bahwa ibunya bisa lebih hebat lagi. Dia tidak tinggal bersama ibunya namun hampir tiap hari mengecek keadaannya. Suatu hari Grace datang membawakan buku resep, tanpa sengaja menemukan daftar kegiatan harian ibunya. Dari situlah dia tahu bahwa ibunya mengidap kanker indung telur stadium akhir. Dia sangat terpukul bukan hanya karena mungkin saja ibunya tidak akan hidup lama lagi tapi juga karena mengetahui hal ini tidak langsung dari mulut ibunya. Bagaimana Grace akan menghadapi situasi ini ditambah lagi dengan sang suami yang telah dianggap belahan jiwanya tiba-tiba muncul dan meminta cerai karena telah menemukan wanita lain?

Eileen lahir pada tahun1943 di Ballamore, kota kecil di pantai barat Irlandia. Ayahnya jurutulis senior meski bukan orang kaya tapi cukup dihormati karena berpendidikan. Dia dibesarkan dalam keluarga Katholik yang cukup taat. Suatu kejadian mengubahnya meski masih percaya pada ajaran agamanya tapi imannya tak sama lagi. Ibunya kemudian mendaftarkannya ke kursus komersial di Dublin dan karena menyukai kehidupan di kota itu ia kemudian berusaha mendapatkan pekerjaan. Tak lama dia bertemu dengan John Blake, hidupnya semakin berubah saat tahu bahwa dirinya hamil sementara John telah meninggalkannya ke Prancis. Dia kemudian memutuskan pergi ke London dan karena waktu itu hamil di usia belia tanpa suami adalah aib maka dia menyerahkan anaknya untuk diadopsi. Beberapa tahun di London, dia bertemu kembali dengan John dan akhirnya menikah. Lahirlah Grace meski pernikahannya jauh dari kata bahagia. Eileen mendapatkan pekerjaan terakhirnya karena Grace mendorongnya. Dia memang terkadang merasa tak percaya diri dan Grace tahu itu. Tidak memberitahu Grace bahwa dirinya mengidap kanker pun karena dia tidak ingin anaknya khawatir dan justru akan mengambil alih keadaan. Eileen merupakan tipe wanita yang mandiri dan tak mau diatur. Waktu Eileen tak banyak, penyakitnya akan semakin parah. Kesalahan masa lalunya pun masih membayangi. Banyak yang ingin dilakukan untuk teman-temannya, dirinya, dan terutama untuk Grace. Bagaimana dia akan menyelesaikannya sementara hubungan dengan Grace pun tidak terlalu baik?

Cita rasa Irlandia selalu terasa dalam setiap karya Kate Kerrigan tak terkecuali “Keajaiban Grace” ini. Cerita ini diramu secara apik, tiap bab berselang-seling, meski di pertengahan ada 2 bab untuk satu tokoh, menceritakan tentang 2 tokoh utamanya. Mereka bercerita dari sudut pandangnya masing-masing tapi ada yang sedikit berbeda, Eileen bercerita dari masa lalunya hingga akhir secara runut sedangkan Grace bermula dari dia mengetahui ibunya sakit dan menghadapi semuanya meski akan ada alur mundur tapi lebih sebagai keterangan dalam bab yang sama. Beberapa orang mungkin akan menganggap gaya bercerita seperti ini mengganggu tapi bagi saya sangat mengasyikkan, membuat lebih penasaran, dan lebih nyata untuk menunjukkan bahwa masa lalu mempengaruhi masa kini dan mempengaruhi hidup orang lain. Bahasa yang digunakan dalam bercerita pun tidak berat dan mudah dicerna hingga membantu lebih menonjolkan kemandirian dan kebebasan tokohnya. Kalimat-kalimatnya tidak menggurui tapi lebih mengajak untuk menelaah masalah dan hubungan antar tokohnya.

Buku ini memang tidak ada masalah dari segi cerita sepanjang penglihatan saya tapi saat membaca tulisan dari Entirely-nya Louise MacNeice sebelum epilog yang ikut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu agak mengganggu. Penggalan seperti ini lebih indah dan sederhana bila disajikan dengan bahasa aslinya. Bila tetap ingin diterjemahkan, lebih baik dengan tetap menyertakan aslinya.

Saat membaca buku ini, terpikir bahwa terkadang saya memang melakukan dan merasakan hal yang sama seperti Grace terhadap ibunya bahkan perasaan menghadapi operasi itu telah saya rasakan saat masih SMP. Mama saya juga kadang seperti Eileen. Membaca cerita ini kadang seakan melihat diri sendiri tapi harus melihat lebih dalam agar lebih bermakna. Tapi beda orang beda rasa, pengalaman, dan opini saat membaca sebuah buku jadi alangkah baiknya jika dicoba sendiri.

“Aku takkan pernah bisa yakin apakah kegelisahanku sendiri atau kegagalan ibukulah yang membuat dia terasa tak pernah cukup bagiku. Jauh di lubuk hati, aku tahu dia ibu yang hebat, tapi entah mengapa, aku selalu merasa kesal kepadanya.” (halaman 14)

“Tak peduli sedalam apa pun aku menyayanginya –atau mungkin justru karena itu—aku terdorong untuk selalu menunjukkan kesalahan Mum. Aku ingin ia menjadi perkecualian dalam setiap aturan yang kuketahui mengenai perilaku manusia. Di depan umum aku mengatakan ibuku benar-benar hebat, tapi diam-diam sifat kanak-kanak dalam diriku selalu percaya bahwa sebenarnya  ibuku bisa lebih hebat lagi.” (halaman 15-16)

“Memang tak sebanyak yang kuharapkan, tapi cukup berarti. Adakalanya kau harus mau menerima sebanyak yang diberikan Tuhan kepadamu dan mensyukurinya.” (halaman 263)