Buku
ini sebenarnya telah beberapa minggu saya beli tapi baru sempat untuk membacanya,
saking penasarannya saya mencuri-curi waktu. Pertama kali jatuh cinta pada
karya Kate Karrigan saat membaca Recipe
of A Perfect Marriage. Sejak itu saya terus mencari-cari dan menunggu
karyanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Tapi, baru tahun ini hal itu
terwujud setelah penantian yang panjang.
Seperti
sampul buku pertama Kate yang saya baca, sampul buku ini pun menarik. Terasa
hangat dan membuat ingin pulang ke rumah dan bertemu ibu. Suasana rumahan pada
sampulnya memang tidak jauh dari tema tulisan Kate, keluarga. Jika di buku
pertama bertaburan bahan masakan, kali ini ada pot, bunga, perlengkapan berkebun.
Bagi saya, ini mengambarkan kehidupan seorang ibu yang di hari tuanya hidup
mandiri, mengerjakan rutinitasnya termasuk berkebun. Tapi apakah tokoh ibu
dalam buku ini sama dengan yang saya pikirkan?
Grace
adalah pengajar di sekolah putri St. Anne. Dia secara sukarela menjadi konselor
bagi 400 muridnya yang masih remaja. Usianya sekitar 40-an dan berpisah dengan
suaminya selama 8 tahun. Grace terkadang merasa bahwa ibunya bisa lebih hebat
lagi. Dia tidak tinggal bersama ibunya namun hampir tiap hari mengecek
keadaannya. Suatu hari Grace datang membawakan buku resep, tanpa sengaja
menemukan daftar kegiatan harian ibunya. Dari situlah dia tahu bahwa ibunya
mengidap kanker indung telur stadium akhir. Dia sangat terpukul bukan hanya
karena mungkin saja ibunya tidak akan hidup lama lagi tapi juga karena
mengetahui hal ini tidak langsung dari mulut ibunya. Bagaimana Grace akan
menghadapi situasi ini ditambah lagi dengan sang suami yang telah dianggap
belahan jiwanya tiba-tiba muncul dan meminta cerai karena telah menemukan
wanita lain?
Eileen
lahir pada tahun1943 di Ballamore, kota kecil di pantai barat Irlandia. Ayahnya
jurutulis senior meski bukan orang kaya tapi cukup dihormati karena berpendidikan.
Dia dibesarkan dalam keluarga Katholik yang cukup taat. Suatu kejadian
mengubahnya meski masih percaya pada ajaran agamanya tapi imannya tak sama
lagi. Ibunya kemudian mendaftarkannya ke kursus komersial di Dublin dan karena
menyukai kehidupan di kota itu ia kemudian berusaha mendapatkan pekerjaan. Tak
lama dia bertemu dengan John Blake, hidupnya semakin berubah saat tahu bahwa
dirinya hamil sementara John telah meninggalkannya ke Prancis. Dia kemudian
memutuskan pergi ke London dan karena waktu itu hamil di usia belia tanpa suami
adalah aib maka dia menyerahkan anaknya untuk diadopsi. Beberapa tahun di
London, dia bertemu kembali dengan John dan akhirnya menikah. Lahirlah Grace meski
pernikahannya jauh dari kata bahagia. Eileen mendapatkan pekerjaan terakhirnya karena
Grace mendorongnya. Dia memang terkadang merasa tak percaya diri dan Grace tahu
itu. Tidak memberitahu Grace bahwa dirinya mengidap kanker pun karena dia tidak
ingin anaknya khawatir dan justru akan mengambil alih keadaan. Eileen merupakan
tipe wanita yang mandiri dan tak mau diatur. Waktu Eileen tak banyak,
penyakitnya akan semakin parah. Kesalahan masa lalunya pun masih membayangi. Banyak yang ingin
dilakukan untuk teman-temannya, dirinya, dan terutama untuk Grace. Bagaimana
dia akan menyelesaikannya sementara hubungan dengan Grace pun tidak terlalu
baik?
Cita
rasa Irlandia selalu terasa dalam setiap karya Kate Kerrigan tak terkecuali “Keajaiban
Grace” ini. Cerita ini diramu secara apik, tiap bab berselang-seling, meski di
pertengahan ada 2 bab untuk satu tokoh, menceritakan tentang 2 tokoh utamanya. Mereka
bercerita dari sudut pandangnya masing-masing tapi ada yang sedikit berbeda, Eileen
bercerita dari masa lalunya hingga akhir secara runut sedangkan Grace bermula
dari dia mengetahui ibunya sakit dan menghadapi semuanya meski akan ada alur
mundur tapi lebih sebagai keterangan dalam bab yang sama. Beberapa orang
mungkin akan menganggap gaya bercerita seperti ini mengganggu tapi bagi saya
sangat mengasyikkan, membuat lebih penasaran, dan lebih nyata untuk menunjukkan
bahwa masa lalu mempengaruhi masa kini dan mempengaruhi hidup orang lain.
Bahasa yang digunakan dalam bercerita pun tidak berat dan mudah dicerna hingga
membantu lebih menonjolkan kemandirian dan kebebasan tokohnya. Kalimat-kalimatnya
tidak menggurui tapi lebih mengajak untuk menelaah masalah dan hubungan antar
tokohnya.
Buku
ini memang tidak ada masalah dari segi cerita sepanjang penglihatan saya tapi
saat membaca tulisan dari Entirely-nya
Louise MacNeice sebelum epilog yang ikut diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia itu agak mengganggu. Penggalan seperti ini lebih indah dan sederhana
bila disajikan dengan bahasa aslinya. Bila tetap ingin diterjemahkan, lebih
baik dengan tetap menyertakan aslinya.
Saat
membaca buku ini, terpikir bahwa terkadang saya memang melakukan dan merasakan
hal yang sama seperti Grace terhadap ibunya bahkan perasaan menghadapi operasi
itu telah saya rasakan saat masih SMP. Mama saya juga kadang seperti Eileen.
Membaca cerita ini kadang seakan melihat diri sendiri tapi harus melihat lebih
dalam agar lebih bermakna. Tapi beda orang beda rasa, pengalaman, dan opini
saat membaca sebuah buku jadi alangkah baiknya jika dicoba sendiri.
“Aku takkan pernah bisa yakin
apakah kegelisahanku sendiri atau kegagalan ibukulah yang membuat dia terasa
tak pernah cukup bagiku. Jauh di lubuk hati, aku tahu dia ibu yang hebat, tapi
entah mengapa, aku selalu merasa kesal kepadanya.”
(halaman 14)
“Tak peduli sedalam apa pun aku
menyayanginya –atau mungkin justru karena itu—aku terdorong untuk selalu
menunjukkan kesalahan Mum. Aku ingin ia menjadi perkecualian dalam setiap
aturan yang kuketahui mengenai perilaku manusia. Di depan umum aku mengatakan
ibuku benar-benar hebat, tapi diam-diam sifat kanak-kanak dalam diriku selalu
percaya bahwa sebenarnya ibuku bisa
lebih hebat lagi.” (halaman 15-16)
“Memang tak sebanyak yang
kuharapkan, tapi cukup berarti. Adakalanya kau harus mau menerima sebanyak yang
diberikan Tuhan kepadamu dan mensyukurinya.” (halaman 263)